
dia mewarisi semangat burung hud-hud. Burung kecil yang terbangnya rendah, namun ia mampu melintas gurun, menahan angin kencang, menebas rintangan, hingga ia mampu menempuh perjalanan yang demikian jauh. Dari Yaman menuju negeri putri saba’ di palestina.
Muttaqwiati : ”gayanya masih seperti dulu. Tenang, santai, tapi sangat mengena. Aku melihat pancaran semangat dimatanya. Pancaran semangat yang tak pernah lelah.”
Someone : ”iya, aku yakin sepertinya begitu. walau tlah lama tak mendengar, tak melihat. Semoga gayanya masih seperti dulu. Tenang, santai, tapi sangat mengena. Aku melihat pancaran semangat dimatanya. Pancaran semangat yang tak pernah lelah. Seperti mewarisi semangat burung hud-hud”
Untuk seorang bapak bijak, seorang asertif, seorang cerdas, seorang tawadhu, seorang sederhana, seorang guru yang selalu menjadi teladan terfavorit, seorang yang ketika ia pindah membuat satu sekolah kehilangan, seorang yang membuat seluruh murid berseri-seri ketika ia yang naik ke mimbar pembina uapacara, seorang kimiawan shaleh yang punya jiwa kepemimpinan, seorang yang mewarisi semangat hud-hud, apa kabar beliau dan keluaganya? Semoga dalam keistiqomahan. Dan…keep fight, semangat terus pak!
Dan untuk siapapun disana. Ya Allah, istiqomahkan mereka yang mewarisi semangat hud-hud sebagai jiwanya, semangat untuk tetap berjuang di jalan-Mu.
Maka, tetaplah semangat saudaraku!
-terinspirasi untuk menulis kembali dengan versi yang berbeda, dari sebuah cerpen di kias Annida edisi baheula, judulnya ’elang hilang sayap’, buah tangan muttaqwiati(saudaraku, cerpenmu bagus!moga keselamatan, keberkahan dan rahmat Allah senantiasa ada padamu^_^)-
nah, ini dia! saya tukilkan juga cerpen bagus itu..met menikmati^_^
ELANG HILANG SAYAP
Muttaqwiati
Lautan putih bergerak seperti sekawanan bangau terbang berarak. Suara takbir menggema bahkan suaranya terasa memantul-mantul. Memukul-mukul gendang telinga, juga dadaku. Lautan putih terus bergerak, sementara aku diam tak beranjak. Menatap iri dari kejauhan
“Harusnya aku ada di antara mereka,” desahku.
Arakan putih memanjang itu lama-lama memudar dan berubah menjadi lingkaran-lingkaran pemuda. Duduk di bawah pohon, ada pula yang di dalam masjid. Sebagian lagi masuk ke dalam kos-kosan. Bersalaman dan berpelukan penuh kerinduan. Mereka pun sama, duduk melingkar. Di semua lingkaran itu selalu ada aku. Duduk di sisi papan tulis putih. Tunduk memegang mushaf menyimak bacaan demi bacaan. Spidol yang tak pernah absen dari dalam tas keluar dan telah berada di tangan dengan segudang catatan.
“Akhi fillah, Allah telah membeli harta dan jiwa kita dengan syurga. Jadi hidup ini sebenarnya adalah transaksi jual beli, antara kita dan Allah…”
“Tet tet tot tet tot tet tot…” Suara HP telah mengubah lingkaran-lingkaran itu menjadi arak-arakan putih kembali.
“Heh, meeting!” kumatikan HP-ku dengan kesal. Aku kembali pada barisan putih yang begitu panjang. Rasanya aku ingin terbang dari lantai atas tempatku berdiri saat ini, hinggap di antara mereka dan meneriakkan takbir. Mengeluarkan yel-yel. Turut serta mengukir sejarah bangsa. Akulah pemuda Alkahfi itu. Saatnya kini keluar dari goa tempat penggemblengan.
“Tet tet tot…”
“Ya, ya saya segera ke sana.” Kumatikan kembali HP-ku dengan kesal. Namun apa boleh buat, aku harus meninggalkan kawanan bangau itu. Bagaimanapun suara sekretaris di seberang sana mengharuskanku untuk tidak boleh menunda lagi.
Aku tak mampu konsentrasi penuh dalam meeting hari itu. Bagaimanapun lautan putih itu benar-benar menyita hati dan pikiranku. Maka seperti terlepas dari beban berat begitu acara telah usai. Aku kembali ke tempatku berdiri, berharap lautan putih masih ada di sana.
“Ah… mereka telah bergerak kian jauh, aku sudah tak lagi bisa melihatnya bahkan mungkin mereka sudah pada naik angkot atau berjejal, bergelantung di dalam bus kota, pulang menuju rumah atau kos-kos mereka,” keluhku penuh sesal. Mataku tak henti memandangi jalan, berharap lautan putih itu masih tersisa. Namun yang ada hanyalah deretan mobil. Kecewa menyelusup jiwa. Namun aku tak beranjak juga, hingga jadilah deretan mobil itu menjadi lingkaran para pemuda kembali.
“Akhi, saya sudah mulai mengerjakan TA. Saya ingin benar-benar konsentrasi. Untuk itu saya minta ijin cuti dari aktivitas kajian dan tugas-tugas dakwah.”
Seperti sebuah palu besar memukul kepala dan dadaku. Kupandangi wajah binaanku mencari kepastian dengan keterkejutan yang tak bisa kusembunyikan. Ia pun tertunduk.
“Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yaqiin…”
Pemuda binaanku itu mendongak, menatapku tak mengerti.
“Ayat itu tidak menyuruh kita untuk menyembah Allah sampai mengerjakan TA, sampai lulus kuliah, sampai menikah, sampai punya jabatan, tapi sampai waktu yang diyakini, yakni ajal bila telah menjemput.”
Binaanku nampak belum paham betul atas jawabanku.
“Para generasi terdahulu paling paham bagaimana mengaplikasikannya. Ammar bin Yasir tidak sekedar aktif berdakwah saat tulang belulang mulai rapuh dan kekuatan tubuh tak lagi prima. Di usianya yang sembilan puluh tahun beliau masih turut berperang. Abu Sufyan bin Harb memotivasi para sahabat untuk turun ke medan laga, di saat usianya tujuh puluh tahun. Demikian juga…”
Kudengar suaraku dalam telingaku, dalam jiwa rapuhku, dalam ketakberdayaanku. Kudengar semua nasihat itu, nasihat yang dulu pernah kuhunjamkan ke jiwa-jiwa yang lelah dalam kebaikan. Aku tertunduk lemas.
“Net net net net…”
“Pasti dari bidadariku.”
“Ya, Sayang, Mas segera pulang.”
Aku bergegas meninggalkan tempat yang telah membangkitkan berjuta kenang. Kenang yang sudah sangat lama terkubur dari ingatan.
Tak butuh waktu lama, aku sudah berada dalam sejuknya Karimun.
Bayang bidadariku berkelebat. Senyum malu-malunya setiap bertemu denganku dulu, muncul sesaat. Ketika kami berdua masih sama-sama sendiri.
“Dia memang perempuan energik, cantik dan cerdas,”gumanku sambil tersenyum sendirian.
Baru sekitar lima ratus meter roda mobilku berputar, rerintikan hujan turun, semakin lama semakin deras. Wiper bergerak, menyeka air yang mulai mengaburkan kaca. Lagi-lagi aku tersenyum. Entahlah, hujan selalu memberi nuansa kesejukan di hatiku. Juga menghadirkan kenang yang amat dalam terhadap bidadariku. Hujan telah turut menjadi saksi kesepakatan kami.
“Tele let.” Kuambil HP dari saku. “SMS, siapa ya?”
“Ass. Pa kabar? Gmn 13 th menikah? Dah suksses mendidik istri? ( Kamal ).”
Kenangan indah tentang bidadariku tercerabut. Kubaca sekali lagi tulisan itu, kemudian kututup. Ingin benar aku membalasnya, atau seharusnya langsung meneleponnya. Tiga belas tahun waktu yang cukup lama. Sejak pernikahanku dengan bidadari, kontak antara aku dan Kamal terputus. Kesibukan telah membuat kami berada dalam urusan masing-masing. Kamal, teman sekamarku, se-halaqoh-ku. Teman yang sering berada dalam satu kegiatan denganku. Dialah yang paling tidak setuju aku menikah dengan bidadari. Segudang alasannya.
“Kalau aku boleh memberikan saran, sebaiknya jangan, Zak. Dia memang cantik, cerdas, supel, aktif di berbagi kegiatan. Tapi ingat, Zak, dia bukan aktivis Islam!”
“Apa salahnya menikah bukan dengan aktivis Islam? Toh dia muslimah?”
“Tidak ada yang salah secara syar’i, tapi apa dia akan mendukung aktivitasmu?”
“Aku akan mendidiknya!” tandasku yakin saat itu.
“Dia tipikal dominan, Zak, sedang kamu pengalah. Saya khawatir kamulah yang akan terbawa.” Kamal yang teman sekelas Bidadari terus meyakinkanku. Aku tak menghiraukan nasihat Kamal saat itu.
“Masih banyak aktivis Muslimah yang bisa kita pilih, Zak. Kenapa tidak mereka saja?”
Kutarik napas panjang dan kuhembuskan dengan berat. Dialogku dengan Kamal kala itu seolah memunculkan kerinduan yang selama tiga belas tahun ini sengaja kukubur dalam jiwaku dan hari ini secara beruntun kerinduan yang telah terimbun manisnya pernikahan dan jabatan menyeruak kembali. Lautan putih dan SMS Kamal telah mampu membongkar timbunan-timbunan itu.
Kamal benar, bidadari cantikku itu tipe dominan, dan kedominannya belum ter-sibghoh dengan sibghotullah. Maka aku yang pengalah ini benar-benar kalah dibuatnya.
“Mas, sudah dua malam ini kau selalu pulang larut. Tempo hari katanya kau ngaji dengan teman-temanmu. Malam ini kau menjadi pembimbing kajian. Kita sudah tidak berada di kampus, Mas. Dan yang jelas kita sudah berumah tangga. Seharian kita sama-sama sudah disibukkan dengan pekerjaan, saya juga membutuhkanmu, Mas…”
“Ah…” Kubuang napas yang menggumpal.
Aku tidak bisa bertahan lama dengan semua protes istriku, aku kalah akhirnya, dan sekarang… aku hanya terbenam dalam suasana kerja, bidadari cantikku, dan satu gadis mungilku yang sepuluh tahun kami tunggu.
“Aku kalah, Mal… Bagaimana pula denganmu? Apa kabarmu? Aku tak sanggup bicara denganmu. Bahkan walau sekedar menanyakan kabar.”
“Tel le let” SMS lagi.
“Terlalu sibukkah antum, akhi, walau sekedar menjawab smsku?”
Kamal, dia seperti mengejekku, dan aku semakin tak sanggup menghadapinya. Aku tak akan bisa mejawab jika dia bertanya tentang aktivitas halaqoh-ku, tentang para binaan yang kutelantarkan begitu saja, tentang istriku, tentang…. Sungguh aku tak kan sanggup.
Karimun terus melaju, berderet bersama mobil-mobil dalam sesaknya Jakarta. Hujan tak juga reda, gundahku pun kian menggulana.
“Sesungguhnya aku rindu padamu, akhi Kamal… namun aku malu.”
***
Aku datang lebih awal dari istriku. Putri semata wayangku telah pulas di tempat tidur. Aku mencium dan menyentuhnya penuh sayang tanpa dia merasakan.
“Subhanallah, kau cantik sekali, Nak, mirip mamamu.”
Kutinggalkan dia dalam ketenangan. Badanku yang sudah segar oleh air hangat di kamar mandi membuatku ingin duduk-duduk santai ditemani teh hangat. Kunyalakan TV kemudian kubiarkan tubuhku bersandar nyaman di sofa setelah seteguk teh mengalir hangat di tenggorokan.
“Wow…!” mataku terbelalak melihat wajah yang sangat kukenal.
“Kamal Fauzi, ketua departemen buruh, petani dan nelayan,” sebuah tulisan berderet di bawah sosoknya yang dengan cerdas menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Gayanya masih seperti dulu. Tenang, santai, tapi sangat mengena. Aku melihat pancaran semangat di matanya. Pancaran semangat yang tak pernah lelah.
“Tahu enggak, Zak, sungguh, aku ingin mewarisi semangat burung hud-hud. Burung kecil yang terbangnya rendah, namun ia mampu melintas gurun, menahan angin kencang, menebas rintangan, hingga ia mampu menempuh perjalanan yang demikian jauh, dari Yaman menuju negeri putri Saba’ di Palestina.”
“Kalau kamu burung hud-hud, aku akan menjadi burung elang bersemangat hud-hud. Jadi lebih hebat lagi.”
Kau menertawakanku saat itu.
“Kalau itu nanti jadi dongeng, kawan, tak pernah ada dalam sejarah.” Kau tertawa terpingkal-pingkal. Namun sejak itu kau sering memanggilku Elang, dan aku senang sebutan itu. Ah…engkau memang burung hud-hud, Mal.
Wajah Kamal tergeser iklan hingga tak lagi tampak di layar kaca. Sementara perasaanku mulai diaduk-aduk oleh berbagai kenangan masa lajang yang penuh hamasah, tak kenal lelah untuk semua hal yang bertema dakwah. Ah… betapa ingin aku terbang sepertimu, Mal.
Wajah Kamal yang kembali muncul di layar kaca tak lagi mampu menyedot perhatianku. Kenangan masa lalu lebih banyak menyitaku. “Aku kalah, aku kalah, aku kalah….!” jeritku dalam hati. Aku harus memulai lagi. Sebaiknya aku menghubungi Kamal. Jika siaran langsung itu selesai, aku janji akan meneleponmu, Mal.
Tak lama suara mobil berhenti di depan rumah. Bidadariku datang. Dengan keriangannya yang khas, tiba-tiba bibir belah jambenya telah menyentuh pipiku.
“Nih, kejutan. Aku bersih-bersih dulu ya?” Ditaruhnya sebuah majalah di pangkuanku. Kutatap wajahnya tak mengerti.
“Buka aja, di dalamnya ada sahabat spesialmu yang lama tak ada kabar.”
Bidadariku sudah pergi seperti merpati.
“Penasaran, siapa sih?”
Mataku terbelalak, lagi-lagi Kamal Fauzi. Duduk didampingi istri dan tujuh anaknya. Kucermati satu per satu wajah mereka. Semua seperti memancarkan semangat yang sama dengan ayahnya. Kembali kucermati satu per satu, dan betapa kagetnya aku menatap foto perempuan berjilbab di sisinya.
“Hai, ternyata… kau menikah dengan ukhti ini?”
Aku teringat sebuah biodata yang di sodorkan guru ngajiku.
“Akhowat aktivis dakwah. Cerdas, supel, dan wirid yaumiyyah-nya bagus.”
“Tapi dia tiga tahun di atas saya,” protesku waktu itu.
Guru ngajiku tersenyum. “Tak ada paksaan, Zak, ini kalau ente mau. Saya mencarikan akhowat yang terbaik untukmu, karena saya pikir, ente pun ikhwan yang sangat baik. Kalian berdua sekufu, itu menurut pengamatan ane. Tapi ya sudah, masing-masing orang punya kriteria, kalau ente nggak mau, ya buat ikhwan yang mau. Yang jelas, yang mendapatkannya haruslah ikhwan yang baik.”
Suara tangis anakku membuyarkan masa lalu. Aku mau beranjak ke kamar namun bidadariku telah mendahului. Aku jadi ingat bahwa aku berjanji akan menelepon Kamal hari ini.
“Mas, sini.” Telepon yang nyaris kupencet kuletakkan kembali. Kuhampiri bidadari yang kelihatan begitu bersemangat ingin mengungkap sesuatu.
“Mas, main ke rumah Kamal yuk. Tadi teman sekantorku si Asti yang bawa majalah itu cerita banyak tentang dia dan istrinya.”
Dengan menggebu-gebu, khas cara bicaranya, ia bercerita detil tentang rumah Kamal yang sederhana, tentang aktivitasnya yang bejibun, tentang istrinya yang aktif. Juga tentang Kamal yang lolos menjadi anggota DPR RI.
“Telepon, Mas, mumpung besok libur, kita bisa ke sana.”
Kusambut gembira usulan bidadariku. Maka aku segera menuju meja telepon.
“Selamat, Mal…” Sebagai sahabat yang lama tak ketemu, obrolan pun serasa tak ada habisnya. Bermenit-menit bicara, tak akan bisa memuaskan kecuali saling berjupa.
“Gimana, Mas?” tanya bidadariku begitu telepon kututup.
“Besok, kita ke sana habis subuh.”
“Bercanda kau, mana ada tamu datang pagi-pagi sekali.”
“Nanti ceritanya ya?” Aku berlari tak tahan dengan perut yang mulai mules minta isinya dikeluarkan.
“Hem… anak-anak kreatif. Pasti anak-anaknya.”
Dinding keramik WC seolah berubah menjadi dinding-dinding rumah Kamal. Aku makin mencermati detil rumahnya. Sebuah rumah mungil bercat putih dan tertapa rapi. 150 meter persegi. Tak kulihat furniture mahal di sana. Malahan di ruang tamu tergelar karpet biru, tanpa meja kursi.
“Kita ke atas saja, Zak, biar istrimu bincang-bincang di dapur dengan istriku. Kan bisa sambil ngapa-ngapain, ya nggak?” Kuikuti langkah Kamal, menuju ruangan lantai atas. Nuansa sejuk langsung kurasakan. Di semua dinding tertempel rak-rak buku. Gelaran karpet hijau membuat ruangan terasa adem. Di pojok ruang sebuah meja duduk menyangga seperangkat komputer. Luas kurasakan.
“Hebat kamu, Mal. Di ruang ini pasti rapat-rapat, acara halaqoh, mabit sering kalian lakukan.”
Kamal hanya tersenyum. Ia tak mempersilakan aku duduk. Bahkan seperti membiarkan aku mencermati seluruh isi ruangan dan mengamati jejeran buku satu per satu.
“Maaf ya, Zak, kita tak punya waktu lama untuk bertemu hari ini. Jam tujuh nanti saya harus keluar lagi. Ada jalasah ruhi di Markazudda’wah. Saya terlanjur janji untuk mengisi mereka.”
Kutatap Kamal dengan rasa iri yang membuncah.
“Pagi-pagi ba’da subuh tadi kamu sudah mengisi kuliah subuh, dhuha nanti mengisi jalasah ruhi, Sekitar jam sepuluhan ada janjian wawancara, kapan kamu punya acara untuk keluargamu, untuk istrimu?”
“Alhamdulillah, Zak, istriku berlatar belakang aktivis Islam dan sampai hari ini pun masih aktivis Islam. Dia sangat mendukung aktivitasku, demikian pula sebaliknya. Kami berdua komitmen menjadikan dakwah sebagai nadi hidup, dan tentunya bukan berarti mengesampingkan keluarga. Bukankah keduanya tak ada saling kontradiksi seharusnya?”
“Apa tidak ada titik-titik jenuh kalau seperti itu terus?”
“Kami selalu mencari waktu untuk bisa berdua. Kami juga mengagendakan waktu untuk rihlah misalnya. Tidak harus jauh, jalan-jalan cari tempat lapang sambil menggelar tikar dan membuka bekal masakan istri, itu mengasyikkan.”
Beruntung sekali kau mendapat istri yang demikian, Mal, gumanku dalam hati, menyesali kenapa dulu aku menolaknya.
“Tok tok tok… Mas, lama sekali di WC, sakit perut?” suara bidadari mencemaskanku.
Semua lintasan yang bergerak dalam pikiranku berhenti seketika. Cerita bidadari tentang Kamal, profilnya dalam majalah, obrolan lewat telepon dengannya, telah dengan sendirinya saling mengait dan membuat sebuah cerita dalam pikiranku.
“Mas, sakit perut?” ulang bidadari.
“Enggak, Sayang…” Aku bersegera bersih-bersih diri, kemudian keluar. Bidadari menungguku.
“Tadi Kamal telepon, katanya besok acaranya ternyata padat sekali. Jadi kita tidak bisa ke sana. Dia khawatir kita terlanjur ke sana tapi tidak ketemu. Rencana malam ini juga dia akan mampir ke sini sebelum pulang. Tadi sudah saya kasih alamat.”
Betapa gembiranya aku mendengar itu. Namun tiba-tiba, aku merasa sangat malu. Juga merasa sangat iri padanya.
“Ia menjadi seperti burung elang yang bulunya tercabut. Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang.” Sebuah syair tiba-tiba menggema dalam hatiku. Terus menggema dan menggema.
“Bukan cuma tercabut bulunya. Bahkan sayapnya telah lepas. Akulah si elang yang kehilangan sayap. Dan aku… merasa rugi, tak mampu lagi terbang seperti sekawanan burung bangau tadi pagi, atau burung hud-hud yang sebentar lagi terbang ke sini.”
Ingin rasanya kutumpah air mataku, barangkali ia mampu menyiram api kesalahanku kelak, namun bidadari itu seolah menyedot air mata itu.
“Mas, kita jamu tamu kita malam ini,” usul bidadariku riang. Aku tersenyum dalam berjuta gelisah, menunggu hadirnya pemilik sayap yang tak pernah lelah.
Brebes, 18 Mei 2004
Untuk semua aktivis dakwah
Oleh: risma on November 5, 2007
at 7:01 am
hud hud??? spirit yang bagus….kalau aku sedari dulu ingin jadi ababil….
Oleh: debuterbang on November 13, 2007
at 4:17 am