assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. ..
to d point ajah…tentang. ..
LBG, liquid batok gases…
baru aja kuliah Kimia Fisik satu tadi siang. dosennya pak bambang setiadji. Dr. AH Bambang setiadji MSc, PHd…yupzz. ..sang peneliti buah kelapa. hmm…seorang luar biasa yang begitu bersahaja.
mbahas hukum termodinamika kedua(hah! apaan tuh…hehe.. .ikuti saja cerita!!). dosen berwajah ramah ini memperoleh virgin natural yang menghasilkan minyak kelapa murni. kenal VCO gak??(virgin coconut oil). dari penemuannya, banyak produk yang dihasilkan dan banyak dipasarkan ex: sabun natural, hand&body lotion, sabun christal, liguid soap, dan face oil
nah, tadi pas kuliah KF 1 pak bambang cerita tentang penelitiannya. tentang masih banyaknya limbah yang terbuang dari buah kelapa yang terbuang. salah satunya, TEMPURUNG KELAPA (BATOK KELAPA)
penjelasannya begini, harga batok kelapa sekilonya sangat aamat teraamat murah(nah loh). dan biasanya kalo dibuat menjadi arang maka akan menghasilkan limbah lagi–asap yang ngepul2 gak ketulungan, bikin polusi aja–. bagi dia, secara orang kimia! berpikir gimana agar asap ini gak tersia begitu aja. lantas ide spektakuler itu dia lakukan juga. dan berhasil dilakukannnya. yakni memproses BATOK yang murah tadi menjadi produk yang punya harga dan bermanfaat bagi manusia. LBG(liquid batok gases) yang bakal menyaingi LPG(liquid petroleum gases)…aamiin. ..
hasil surfing lewat google, tentang pengolahan LBG, saya copy-paste dengan sedikit revisi 
Gambaran teknisnya, sekitar 100 – 150 kg tempurung kelapa dimasukan ke tungku perolis (terbuat dari stainless) lantas di tutup rapat-rapat tanpa ada udara yang ke luar. Lalu, dipanaskan dengan menggunakan model kompor bertekanan tinggi. Kira-kira setengah jam kemudian, dari dalam tungku tersebut akan keluar asap yang dialirkan lewat satu pipa
Pada tahap pertama, asap tersebut, akan mengeluarkan zat, semacam ter, yang bermanfaat untuk pengawet kayu. Asap yang tak menetes dalam bentuk ter, disalurkan dalam suling pipa tersebut kemudian masuk ke kumparan. Dalam kumparan tersebut, sudah disediakan tungku ke dua dalam bentuk drum yang sudah diisi air.
Otomatis uap asap yang mengalir tersebut mendingin dan menjadi cair, lalu disalurkan ke dalam tungku ke tiga. Karena uap cair ini masih belum bening dan juga masih mengandung zat berbahaya, dalam proses ini uap cair diuapkan lagi, istilahnya distilasi.
Setelah melalui proses dua kali distilasi, uap cair itu akan menjadi bening warnanya. Tak keruh atau cokelat lagi. Itulah yang disebut uap asap atau liquid smoke. Menurut pak Bambang, dalam 100 g tempurung, akan menghasilkan 25 liter asap cair. Ongkos produksinya hanya sekitar Rp 50 ribu. Itu sebabnya, menurut pak bambang Bambang, harga jual asal cair ini relatif murah yakni Rp 6 ribu per liter. pak Bambang pun sudah memproduksi temuannya. Harganya baik di Yogya maupun di luar Jawa sama saja, ungkap pak Bambang seraya mengatakan tahun 1992 itu, temuannya sudah dikenal di kalangan terbatas
beliau mengungkapkan, temuannya ini tak berbahaya bagi kesehatan. Bahkan Oktober lalu, pengasapan cair karya Bambang ini sudah diakui kelayakannya di Kanada.
katanya “Ya, semacam BPOM nya di Indonesia. Dari sana, saya sudah mendapatkan sertifikat daftar sehat. Padahal, untuk mendapatkan daftar sehat itu jelas, persyaratanya ketat sekali. Kanada termasuk negara yang sangat teliti terhadap kesehatan untuk rakyatnya,” ujar pak Bambang yang sudah mengirim 3 kontainer asap cair ke Kanada.
Sampai saat ini lanjut pak Bambang, “Mereka menggunakan asap cair ini untuk pengawetan. Tidak seperti negara kita yang menggunakan formalin. Padahal, jelas-jelas berbahaya untuk kesehatan.”
Menteri Kesehatan akan memberikan rekomendasi bahwa hasil penemuan ilmiahnya boleh dipakai dan digunakan oleh masyarakat luas. Sebelumnya, ia memang sudah menghadap Menteri Kesehatan dan Dirjen BPOM dalam kapasitasnya sebagai peneliti. “Saya sudah mempresentasikan hasil temuan itu di depan Menkes dan jajarannya,” ungkap Bambang yang sudah mempatentan temuannya itu.Untuk ke depan, ujar Beliau, ia tak ingin hasil temuannya itu tidak menjadi industri besar. Namun, ia memilih untuk diproduksi massal. Cara yang dilakukan adalah menyosialisasikan hasil temuannya ke pejabat daerah di seluruh Tanah Air. Dari sana, Pemda setempat menjadi mitra untuk membeli teknologi penyulingan asap tersebut dengan harga kisaran Rp 50 juta per buah.
Sebenarnya, bisa dengan cara lebih sederhana. “Bisa kok dengan drum saja untuk pembakaran tempurung kelapa. Kompornya menggunakan kompor yang biasa dipakai untuk bikin maratabak. Namun, tong atau drum itu mudah rusak, tak kuat menahan panas sekian derajat itu. Makanya alat ini menggunakan stainless yang memang dirancang untuk pengelolaan kelapa terpadu.”
pak Bambang menyadari, dengan harga yang mahal, alat ini hanya bisa dibeli orang-orang tertentu. “Makanya kami menjalin kerja sama dengan Pemda. Nah, dengan cara ini sudah ada 12 provinsi yang menggunakan hasil temuan saya. Mulai Lombok, Lampung, Gorontali, hingga Bali. Prinsipnya, Pemda membeli alat ini untuk kesejahteraan petani.” Sekian tahun terjun langsung ke masyarakat, pak Bambang yang pernah menjadi anggota DPRD paham betul, betapa para petani kelapa hidupnya miskin. Padahal mereka memiliki ladang dan pohon kelapa. “Makanya ilmu yang saya tekuni ini saya ajarkan kepada masyarakat banyak.
Kalau ilmu ini diambil konglomerat, sudah pasti petani kelapa selamanya akan melarat terus.”
Setiap provinsi yang telah menjalin kerjasama, tak dibiarkan kerja sendiri dalam mengelola kelapa terpadu. Kualitas kontrol tetap berada di tangan Bambang dan orang-orang yang telah dia percaya. “Yang meninjau langsung ke tempat-tempat tersebut adalah para sarjana muda yang punya interes tinggi terhadap keilmuan.”
yupz! dari artikel hasil copy paste dan sedikit editing ada yang saya warnai dengan warna biru. sedikit penekanan.bahwa: LBG adalah sebuah harapan seorang pak bambang, agar nantinya produk dan limbah kelapa yang melimpah ruah di negara kita ini bisa dimanfaatkan masyarakat luas. siapapun, dipelosok manapun. kalo LPG kan pengusanya negeri ini cuma satu…PERTAMINA! !!(mungkin begitu
)
hanya menyambung sebuah harapan seorang sederhana dan murah senyum dalam kuliah tadi siang, 8 Nov 2007….
buat semua ganbatte ne! inilah yang saya bilang science untuk negara. saintis negarawan… so what! tapi kami…hanya berharap punya kontribusi untuk sebuah peradaban… moga manfaat ya…^_^
LBG..Yupzz!!!
nb: hmm..mau kenalan ama bapak sederhana ini gak??ikut kuliah saya saja…hehe…kuliah dg bapak berkacamata itu…^_^ salut untuk beliau…

wah boleh tuch mbak risma,… ikutan dunks,. kuliahnya,.. (kuliah lagee…. kapan lulusnya?>>)
kayaknya yg pake jas itu mirip dosenku ya mbak…
hehe..bener ga yaa….
Oleh: ibnu on November 8, 2007
at 11:41 am
Assalamualaikum
kembangkan lagi aja thu tentang kelapa, mungkin masih banyak misteri yang masih disembunyikan Allah SWT dibalik kesederhanaan buah kelapa.
websitenya bagus, luar binasa(baca:luar biasa)
Oleh: siapa ya? on November 11, 2007
at 9:33 am
sesuatu…
Oleh: el-nekos on November 16, 2007
at 3:06 am
mbak ris blh tanyakan ke dosenya lagi g selain dari tempurung kelapa apalagi yang dapat dipake dan bahan itu mudah didapat oleh orang
ntar jawabanya pean kirim ke email aq aj ya tak tggu lo y
Oleh: prie on Maret 9, 2008
at 12:19 am
kenapa tanya ama bapaknya…tanya ama saya saja.(hehe…tau po?! :p). insyaAllah kalo ketemu ya…soalnya habis mid term baru diajar lagi ama beliau…^_^ yups, tetap semangat!!
Oleh: risma on Maret 12, 2008
at 8:49 am
Assalamu’alaikum Mbak ris..saya tertarik banget tuh tentang kelapa… soalnya saya jualan santan kelapa, jadi batoknya kan sayang kalo gak di olah..saya boleh tau emailnya pak bambang gak..?? saya mau tanya ma beliau, kira-kira beliau mau gak ngasih ilmunya ke saya.. saya mau buka usaha kayak punya pak bambang juga.. saya tinggal di medan mbak..ntar saya ke jogja dehh.. sekalian kenalan ma mbak ris.. boleh ya mbak..?? tolong ya mbak minta’in email bliau…saya mohon di balas ya mbak..thanks ya…wassalamu’alaikum..
Oleh: budi darmanto on Februari 4, 2009
at 6:36 am