Oleh: sangprofesor | Desember 8, 2007

salut no.2

 

suatu siang di hari rabu, 25 dzulkaedah 1428. tiga hari yang lalu di mipa selatan. dari kejauhan terlihat sepasang merpati duduk berdampingan.

aku terus berjalan, dan langkah kaki melambat saat harus melewati mereka. harus menyapakah?yupz, tidak bisa tidak, mesti menyapa. dan tentu saja yang kusapa adalah akhwat manis berjilbab putih itu, mbak sofie.

” assalamu’alaikum, mbak sofie…”

“wa’alaikum salam” jawabnya

tangan kami berjabat. senyumnya mengembang, begitupun aku.

“barakallahu mbak, afwan kemarin gak bisa dateng ke walimahannya. selamat ya…”

” iya gak apa. doain aja ya” katanya

“iya, pasti risma doain mbak.”sahutku

barakallahulaka wa baroka’alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir…,semoga Allah mengekalkan berkah atasmu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan…

sepertinya aku menjadi pengganggu saja. tak mau berlama-lama, aku pamit dari hadapannya.

” udah ya mbak, risma kesana dulu”

“oh iya, kuliah ya?”

aku mengangguk.”assalamu’alaikum”

“wa’alaikum salam” jawabnya lembut

baru saja aku bertemu mereka, yang baru saja menikah beberapa hari yang lalu, ahad kemarin. dua mahasiswa semester lima FMIPA UGM yang memutuskan menikah di masa kuliah. keputusan spektakuler menurutku. salut pada mereka: salut no.1.

cinta itu fitrah. dan tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. mau mendobrak norma langit dan berakhir di neraka atau mengikuti aturan pembuat surga dan masuk surga. (mengadopsi gaya bahsa seorang kawan). dan “ta’aruf” lalu menikah bisa jadi solusi. 

tapi pembahasan kali ini bukan hanya tentang mereka kawan, ikuti lagi ceritaku.

aku jadi teringat perbincangan dengan beberapa kawan yang bercerita tentang pemandu AAI nya. kasusnya begini, mereka dinasehati oleh pemandu AAI nya agar jangan dulu membaca buku2 sejenis kuliah, kerja, nik…h.

mereka meminta pendapatku waktu itu. gubrak! kalo soal beginian aku benar2 hanya berani mendengarkan dan menyimpan pendapatku sendiri. tiap orang punya pilihan masing2 kan.

tapi baiklah, waktu itu aku hanya menanggapi seperti ini,

“ya gimana ya, mungkin bener juga, mbak kalian itu berpandangan kalo kalian sering baca buku begituan, nanti kalian pengen cepet2 nikah juga, sekalipun masih kuliah. ada yang bilang, kita akan menjadi seperti apa yang kita baca. nah, kalo bacaan kalian itu2 melulu, yah, otomatis kalian akan terpengaruh, sedikit ataupun banyak. tapi gak tau juga dink, ya tafadhol kalo kalian emang dah siap. kan itu semua tergantung kalian sendiri. tapi menurutku, kalo untuk sesekali membaca tidak apa kan, gak ada salahnya, nambah pengetahuan, nambah persiapan. ”

terus terang, aku juga termasuk orang yang jarang baca buku2 seperti itu.paling sekali lintas melihat cover atau bagian belakang sampulnya saja. hehe

kawan2ku itu sepakat.mengangguk-angguk sambil bilang” iya ya, kalo kita sering baca, otomatis kita akan terpengaruh”

nah, biarkan aku mengurai cerita tentang sosok yang menyarankan mereka agar jangan dulu membaca buku2 begituan itu.

beliau seorang akhwat yang kukenal, politisi kampus. sudah senior. aku kenal dia, dan tau juga prinsipnya mengenai hal ini. aku tau prinsipnya itu sejak kudengar ia berpendapat dalam obrolan antar akhwat di walimahan ikhwah(yang akhwat masih kuliah), dulu.

waktu itu dia ditanya seorang lainnya.

“hayo mbak, kapan ni menyusul?!”

dengan tegas sambil tersenyum dia berkata ” setelah lulus!”

ia melanjutkan dengan argumen,

“selesaikan kuliah dulu. lagipula persiapan untuk menikah, merangkai walimahan(yang islami) butuh jangka waktu sekitar 2 tahun. mesti dilakukan pendekatan keluarga dulu untuk sosialisasi walimahan yang islami. bereskan dulu amanah orang tua, kuliah, lulus, baru nikah. karna gak gampang nanti ngurus keluarga sambil kuliah, juga terkait mobilitas dakwah di kampus…”

aku cuma bisa mendengar saja. seingatku saat itu cuma aku akhwat 2006 di rombongan yang datang ke walimahan. yang lainnya 2005 keatas. jadi ya, selaku anak terkecil, aku cuma bisa menimpali dengan sedikit tanya dan canda di sela obrolan mereka.

ya, salut juga ama keputusan beliau: salut no.2.menjalankan amanah dari orang tua dulu. ini mungkin banyak berlaku untuk anak2 luar jogja atau jawa tengah ya. pergi jauh2 ke kota gudeg dengan membawa satu amanah orang tua yang harus diselesaikan dengan benar. Kuliah!

di akhir acara ia ditanya lagi kapan akan menyusul. lalu ia berkata,

“inyaAllah 2 tahun lagi!”

gubrak!!!artinya…..sekarang dah persiapan ya?!gumamku dalam hati. waktu itu aku mengulum senyum…hehe…ketauan mbak!

oke, jika boleh berpendapat, tiada yang salah dari kedua keputusan diatas. aku salut pada dua-duanya. keduanya pasti punya pondasi kuat untuk sebuah keputusan yang telah dipilih.dan, biarkan aku berpostulat ^_^

ahad lalu diskusi ama mama lewat telpon. awalnya mah karna cerita kalo hari itu aku ada undangan walimahan kakak angkatan tapi gak bisa dateng karena ada agenda lain. dan kesimpulan dari diskusi yang banyak canda dan nasehat itu sama dengan salut no.2.

“selesaikan kuliah dulu! jangan macem2! teori tak semudah prakteknya lia!” begitu katanya

insyaAllah ma. aku akan jaga amanahmu. dan jika fitrah cinta itu datang. maka fitrah cinta itu akan kujaga. akan kujaga agar tak ternodai. aku ingin masuk surga ma. doakan saja bertahan hingga akhir. insyaAllah.

dan terakhir, ada sebuah nasyid yang tepat untuk mereka. si “salut no.2” nasyid yang jika kusenandungkan sesekali itu, akan selalu di-interupsi oleh sahabatku. wikan.”apaan sih. lagu orang dewasa!” sergahnya. hmm…kau salah sahabat baikku, justru ini lagu buat anak kecil(sepertiku)! ^_^ . wallahualam bishsowab….

–nantikanku dibatas waktu–

Dikedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Reff :
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
nanti, kubawa kau pergi ke syurga abadi

Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu

by: edcoustic

“maka Allah adalah sebaik-baik penjaga”(Q.S Yusuf: 64)

Iklan

Responses

  1. dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyayang.

  2. Tuhan,anugerahkan kami cinta mulia tanpa tatap mata.
    amin

  3. tinggal memilih,… yang terbaik bagi setiap manusia…. (dalam pandangan manusia). qudrah ALlah yang harus terjadi!!

  4. Allah telah menetapkan segala yang terjadi pada manusia 50 ribu tahun sebelum diciptakannya llangit dan bumi

  5. nikah????kapan ya,………

  6. itu nasyid ya ? kayaknya bukan d

  7. em, bukan ya?wah, kalo begitu syair yang disenandungkan munsyid ya?edcoustic itu munsyid kan.hehe, kalo kata kakak saya: mode gak mau kalah lagi on ^_^ peace!

  8. […] nb: untuk tahu makna “salut no.1″, silahkan baca disini […]

  9. cinta itu fitrah….
    nikah itu anugerah…
    cinta dan nikah berbalut islam dalah keindahan…

  10. Subhanallah…
    sepakat ukh dengan mama ant.. praktek terkadang tidak semudah teori..
    semoga Allah mengaruniakan cinta yang tepat

    • wah, bedah blog ya, ceritanya, ya, ukhtiyya….??

      *kata papa baru2 ini, “Nikah? boleh, sekarang juga boleh, asal kamu yakin, asal sudah kamu rencanakan dengan matang…” Nah….
      **dan jika tiba saatnya menggenapkan dien, semoga Allah meridhainya… pernikahan, gerbang baru menuju-Nya, barakah sampai ke surga, amin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: