Oleh: sangprofesor | Februari 1, 2008

dan genderang perang pun bertalu…

 

pada suatu ketika, “bunga(nama disamarkan)…., gak berangkat? kuliah Qur’an kan?” 

dari balik pintu ia berseru “enggak ris, males…!”

***

ada sebuah ungkapan dari orang bijak,” musuh kita adalah diri kita sendiri.” yupzz! ketika kita tahu tentang banyak kebaikan, dan kita ingin melakukannya, tapi kenapa ya, kita malah sering gagal menunaikannya? Begitupun pada keburukan, kita tahu bahwa itu tak boleh dilakukan, tetapi mungkin kita justru terdorong untuk melakukannya?! loss control?? Astaghfirullah…

yah, inti dari masalah ini hanya satu, kita sering gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. lalu, harus bagaimana ya? harus bagaimana kita agar mampu mengembalikan kepemimpinan pada diri kita sendiri? yuzz, mungkin jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan musuh. tak ada jalan lain, kecuali diperangi. perang fren! lawan!!

dan, kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang sulit dideteksi ini.

adapun seorang pejuang adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya. begitu kata rasulullah. dan betapa kuat atau lemah kita diukur oleh kemampuan kita dalam mengendalikan diri ini.

maka, disini, didalam jiwa ini, kugaungkan pada diriku sendiri juga padamu, kawan. “jangan pernah menyerah pada dorongan negatif hawa nafsu! ini perang yang tak pernah usai, tak pernah berhenti! lawan!!”

genderang perang itu telah lama bertalu, disini, didalam jiwa ini…

dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Q.S An-Nazi’aat: 40-41)

wallahua’lam bishshowab…

Iklan

Responses

  1. Mungkin saudari kita itu selama ini belum atau kurang begitu merasakan Islam sebagai kenikmatan. Paling tidak ada dua penyebab, kenapa kita belum atau kurang merasakan nikmat Islam atau ber-Islam sebagaimana kita tidak atau kurang merasakan nikmat makanan dan minuman.

    Pertama, mungkin karena lemahnya pemahaman kita terhadap Islam. Karena ketidaktahuan kita, makanan yang sebenarnya lezat, nikmat dan bergizi, tidak
    mau kita konsumsi. Sepeti anak kecil, untuk mengkonsumsi makanan bergizi, kita harus menyuapinya, dan bahkan mengejar-ngejarnya. Setelah dia dewasa,
    dan paham, dialah yang gantian mengejar-ngejar kita untuk memenuhi permintaannya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kita terhadap agama kita, agar bisa merasakan nikmat Islam dan ber-Islam.

    Kedua, atau mungkin karena adanya penyakit dalam diri kita, sariawan, gusi bengkak, sakit gigi misalnya. Sehingga, makanan yang lezat dan enak itu menjadi tidak nikmat dan tidak lezat. Oleh karena itu, marilah kita
    bersihkan diri kita dari berbagai penyakit hati dan jiwa, agar kita bisa menikmati Islam dan ber-Islam.

    Dalam Islam, orang-orang yang “berani” melanggar ketentuan Allah dalam beberapa kasus hal itu disebabkan lantaran mereka belum ma’rifah kepada Allah dalam arti sesungguhnya. Ini mirip dengan kisah orang-orang kafir Quraisy pada masa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. yang apabila ditanyakan kepada mereka siapa yang menurunkan hujan dari langit dan yang menumbuhkan pepohonan dari bumi, mereka akan menjawab Allah. Tapi, bila mereka diperintahkan untuk meng-Esa-kan Allah dan menjauhi penyembahan berhala, mereka akan mengatakan bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

    Imam Ghazali menyatakan bahwa ma’rifah adalah sebuah tingkatan kecerdasan, yaitu mengumpulkan dua atau lebih informasi untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Dan dari kesimpulan itulah muncul tindakan atau sikap. Bukan ma’rifah namanya bila apa yang diketahuinya tidak menghasilkan tindakan.Seseorang yang mengaku mengenal Allah, tapi tidak menghasilkan ketundukkan, ketaatan, loyalitas, dan penghambaan kepada Allah, sesungguhnya dia belum ma’rifah kepada Allah.

    Contoh lainnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu memikirkan kecantikan, kebaikan, kelembutan, dan keramahan kekasihnya. Memikirkan hal-hal semacam itu sudah cukup membahagiakan hatinya. Selain itu, ia pun akan selalu menjaga jangan sampai kekasihnya benci dan menjauhi dirinya. Oleh karenanya, ia akan selalu tampil baik, sopan, ramah, murah hati, dan lembut di depan kekasihnya. Kalaupun ia memiliki sifat buruk, maka di hadapan kekasihnya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan sifat-sufat buruk tersebut.
    Orang yang tengah jatuh cinta, biasanya selalu berusaha untuk menyelami sifat dan hobi sang kekasih dan sedapat mungkin berusaha untuk mendekatkan
    diri dengan sifat dan hobi kekasihnya itu, meskipun sebenarnya sifat dan hobinya berbeda.

    Teruntuk semua insan di dunia,….sebenarnya Allah telah melapangkan jalan menuju kebaikan namun memang sekali lagi kualitas keimanan kitalah yang menentukan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Hasan rodhiyallohu anhu, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan untuk taat dan Allah sendiri membantu ke arah itu. Allah juga melarang perbuatan maksiat dan membantu menumbuhkan perasaan enggan berbuat maksiat. Maka berbuatlah semampu antum untuk neraka, dan jangan jadikan itu sebagai alasan. (Az-Zahr Al-Faih)

    Oleh karenanya untuk memutus rasa malas beribadah dari diri manusia adalah ingat kepada Allah Ta’ala dan ingat bagaimana kehidupan setelah kematian. Dan hamba Nya yang benar-benar meyakini kehidupan setelah kematian akan melakukan berbagai upaya yang disyariatkan Islam untuk memperoleh kelezatan yang hakiki di akhirat nanti.

    Dan sangatlah merugi apabila kita termasuk dalam kategori yang pernah disampaikan oleh Sufyan Ats-Tsaury, “Orang yang paling menyesal di akhirat kelak ada tiga: Seseorang yang memiliki hamba yang kelak pada hari kiamat hamba tersebut membawa amal lebih baik darinya. Seseorang yang mempunyai harta, tidak menyedekahkannya lalu mati, kemudian orang lain yang mewarisinya dan bersedekah dengannya. Dan, seseorang yang berilmu tapi tidak bermanfaat, mengetahui orang lain yang sama-sama berilmu tapi bermanfaat.”

    Kehidupan ini senantiasa melepaskan anak panahnya kepada kita saat kondisi kita lemah dan serba terbatas. Kita menikmati kesenangan dengan rahmat yang Maha Menyayangi, Robb yang Maha Menyayangi dan Maha Pengampun Lagi Maha Mulia.

    Memang hidup ini sarat dengan kesulitan dan kesusahan, diciptakan secara fitrah untuk dipenuhi dengan beban dan kepayahan, aral rintangan serta berbagai cobaan. Tak ubahnya dingin dan panas, yang memang harus dirasakan oleh para hamba-Nya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

    Berbagai kepayahan itu adalah batu ujian, untuk menentukan siapa di antara hamba-Nya yang benar dan yang tidak benar. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
    “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2)

    Jiwa manusia itu hanya dapat menjadi suci, setelah ditempa. Ujian dan cobaan, akan memperlihatkan kesejatian seseorang. Ibnul Jauzi mengungkapkan: “Orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan abadi tanpa ujian dan cobaan, berarti ia belum mengenal ajaran Islam dan tidak mengenal arti pasrah diri kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.”

    Setiap orang pasti akan merasakan susah, mukmin maupun kafir. Hidup ini memang dibangun di atas berbagai kesulitan dan marabahaya. Maka janganlah seseorang membayangkan bahwa dirinya akan terbebas dari kesusahan dan cobaan. Cobaan adalah lawan dari tujuan dan memang bertentangan dengan angan-angan dan kesenangan menikmati kelezatan hidup. Setiap orang pasti merasakannya, walau dengan ukuran yang berbeda, sedikit atau banyak. Seorang mukmin diberi ujian sebagai tempaan baginya, bukan siksaan. Terkadang cobaan itu ada dalam kesenangan, terkadang juga ada dalam kesusahan. Alloh berfirman yang artinya:
    “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran…” (QS. Al-A’raaf: 168)

    Satu hal yang dibenci kadang mendatangkan kesenangan, satu hal yang disukai kadang mendatangkan kesusahan. Janganlah merasa aman dengan kesenangan, karena bisa saja ia menimbulkan kemudaratan. Janganlah merasa putus asa karena kesulitan, karena bisa jadi akan mendatangkan kesenangan. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

    Mudah-mudahan ia tidak terkena syubhat setan yang berkata, ‘Kamu akan mendapat syafa’at (pertolongan) dari amalmu!’ kemudian disibukkannya orang itu dengan amal-amal yang mubah, sehingga beristirahat sejenak dari amal-amal shalih. ‘Kamu orang sibuk, kamu sudah lebih baik dari orang lain!’ Demikianlah agar kamu senantiasa santai dan tidak bersungguh-sungguh menambah amal!

    Tukar pengalaman aja ya:) pernah kutemui di sebagian halaqah ilmu, ketika seseorang keliru dalam (belajar) membaca Al Qur’an, dia lebih memilih untuk berhenti dari halaqahnya daripada meneruskan keikutsertaannya dalam halaqah belajar membaca sampai benar, semata-mata agar tidak berada dalam keadaan malu di hadapan manusia karena masih belajar membaca. Akhirnya seumur hidup dia tidak belajar. Padahal kalau dia mau merenung sejenak, akan dia ketahui bahwa orang yang bacaannya baik sekarang ini, dahulunya pun seperti dia tidak begitu baik membacanya, kemudian ia belajar dan berhasil. Kalau sifat ini dituruti, maka ketidakmauan belajar lagi ini akan terbawa seumur hidupnya, sebagaimana kata penyair: Bagaimana pun keberadaan suatu sifat pada seseorang walau disangkanya tersembunyi dari manusia, pasti terbongkar juga.

    Mudahan-mudahan kita tidak termasuk orang yang malas menuntut ilmu agama karena takut berhadapan dengan ujian yang kelak Allah timpakan pada kita. Takut akan ungkapan semakin tinggi kadar ilmu agamanya maka akan semakin perih ujian yang akan diterimanya.

    Saad bin Abi Waqqash mengungkapkan: “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasululloh! Siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berurut menurut tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringkankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari)

    Abu Darda menyatakan: “Di antara bentuk kehinaan dunia di hadapan Alloh adalah bahwa manusia berbuat maksiat selama ia di dunia, dan ia hanya bisa menggapai apa yang ada di sisi Alloh dengan meninggalkan dunia. Maka hendaknya engkau menyibukkan diri dengan hal yang lebih berguna bagimu untuk mengambil kembali yang mungkin hilang darimu, yakni dengan cara memperbaiki kekeliruan, memaafkan kesalahan orang, dan mendekati pintu Ar-Rabb. Dengan itu, engkau akan melihat betapa cepatnya musibah yang menimpamu itu menghilang. Kalau bukan karena kesusahan, engkau tidak bisa mengharapkan saat-saat senang. Hilangkan hasrat terhadap yang menjadi milik orang, niscaya engkau akan menjadi yang terkaya. Jangan berputus asa, karena itu membawa kehinaan. Ingatlah nikmat Alloh yang banyak kepadamu. Tepislah segala kesedihan dengan ridha terhadap takdir dan dengan shalat di malam yang panjang. Bila sudah habis malam, masih ada subuh yang datang menjelang. Akhir kesedihan adalah awal kebahagiaan. Masa tidak akan berdiam dalam satu kondisi, namun terus berganti. Segala kesulitan, pasti akan berangsur hilang. Jangan putus asa hanya karena musibah yang datang bertubi-tubi. Satu kesulitan, akan dikalahkan oleh dua kemudahan. Merunduklah kepada Alloh, pasti kesulitanmu akan sirna selekasnya. Setiap orang yang penuh dengan ketabahan, pasti akan mendapatkan jalan keluar. ”

    Oleh karenanya orang yang diciptakan untuk masuk Surga, pasti akan merasakan banyak kesulitan. Kesulitan yang sesungguhnya adalah yang menimpa agama seseorang. Sementara selain itu merupakan jalan keselamatan baginya. Ada yang berfungsi meningkatkan pahala, ada yang menjadi pengampun dosa. wallohu a’lam.

  2. salam ukhuwah 🙂

  3. seperti never ending journey?

  4. to riza: yupzz… ^_^ salam ukhuwah juga…
    to k duta (debuterbang): yupzz…seperti never ending journey………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: