Oleh: sangprofesor | Mei 25, 2008

insting cacing

Beberapa hari lalu, suatu pagi di hari kamis. Ada yang perlu dianalisis. Hehe…gak ada apa-apa dink…ini cuma tentang cacing2 di jogja yang pada keluar dari markas! Serius! Dimana2 aku liat cacing dan cacing. Di teras kos ada cacing bergelimpangan, di jalan-tanah- menuju kampus juga banyak yang seliuran, di jalan pulang dari tempat syuro juga sama, ada cacing2 yg unjuk performa. masyaAllah… Kok sepertinya banyak betul ya?!

 

Rekaman memoriku berputar kembali. Dulu sekali, waktu masih kecil, aku pernah baca di majalah Bobo, bahwa cacing itu punya insting untuk membaca pertanda alam seperti hujan. Jadi, kalo hujan tidak deras dan turunnya cuma sebentar, maka mereka akan menetap didalam tanah saja. Dan bila hujan turun dengan lebat dan cukup lama, maka mereka akan keluar dari markasnya(tanah. red). Logikaku sie, mereka pada keluar pas hujan lebat karna takut kelelep ama air hujan yang terlalu banyak diserap tanah, lubang2 tempat tinggal mereka terisi penuh oleh air, kepaksa migrasi deh(hehe…logika lugu-lucu dan gak banyak tau).

 

Perilaku cacing ini juga berkaitan(tepatnya mungkin berpengaruh) dengan perilaku ayam, dimana saat hujan turun, mereka akan berteduh, mungkin di dekat kandang atau tempat berteduh yang lain. sedang kalo hujannya itu gak begitu lama, maka mereka memutuskan untuk main hujan. Dengan satu tujuan, gerilya santapan lezat. Apalagi kalo bukan pesta ama cacing2 yang bentar lagi bakal keluar! Hehe. ”Makan2 euy”kata ayam.

 

Hmm…malam kamis itu rasanya hujan gak begitu lebat deh…mungkin nanti malam bakal hujan lagi pikirku pagi itu. Dan benarlah, ternyata sorenya hujan lebat. Subhanallah…keren juga ya cacing2 itu mampu membaca isyarat alam. ”Bahwa nanti malam akan hujan lagi dan lebih lebat sepertinya. Kita keluar yuuk!” Mungkin gitu kali ya dialognya?! Hehe. mereka takut kelelep, padahalkan sama aja kalo air hujannya menggenang, mereka bakal kelelep juga. Atau paling enggak, kena injek ama manusia. ya, nasibmu ca…

 

Lalu, bagaimana dengan manusia?? Apa manusia gak lebih peka daripada cacing?? Hmm…Urusan baca membaca isyarat alam. Bapak2 nelayan kayaknya ahli membaca pertanda di lautan. Ahli2 meteorologi juga punya prediksi dengan caranya sendiri. Ya…kita punya akal. Kita masih punya intuisi. Yang sesungguhnya dan harusnya lebih baik dari sekedar insting cacing. insyaAllah…

hanya saja masalahnya, kita belum pandai. Maka itu kita belajar. Yup, belajar tiada henti. Tiada kata akhir untuk belajar… ganbatte!!

 

”ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat,’sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.’ Mereka berkata, ’mengapa Engkau hendak menjadikan(khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ rabb berfirman, ’sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”(QS Al baqoroh 30)

 

”hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(QS Ali Imron:79)

 

Wallahua’lam bishshowab….

Iklan

Responses

  1. Wah blog keren bin jayid bin jidan …
    salam kenal juga

    Wassalamu’alaikum,
    temannya Ustadz Bang Burhan Sodiq,
    Sing Mbahu Rekso :
    Cakruk Sederhana tapi Istimewa,

    http://www.cyberknight.wordpress.com

  2. Asslm
    wah bgus mbak ceritanya.. Slm kenal mbk.. Dri orng bkl

  3. subhanallah…
    cerita yang bagus!
    keep istiqomah 🙂

  4. sumpah bagus bangets”””””””””salam kenal juga mbae dri anak ngapxs


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: