Oleh: sangprofesor | Juli 21, 2008

kontemplasi di gedung pusat

 

 

Suatu pagi di gedung pusat UGM. Hari Minggu. Saat dimana kebanyakan orang-termasuk aku kini- menyempatkan diri untuk istirahat sejenak dari kepenatan seminggu lalu. Di masjid kampus UGM ada kajian rutin ahad pagi. Seperti biasa. Rame dengan para pencari ilmu sejati. Di sekitar GSP jangan ditanya lagi. Orang-orang yang berolahraga. Yang jalan-jalan. Yang shoping-shoping. And others. Pastinya jalanan penuh. Padat luar biasa dengan orang-orang yang hilir mudik entah mau ngapain aja.

 

Dari  selatan gedung pusat UGM, memperhatikan bapak-bapak paruh baya, para buruh bongkar-pasang paralon di taman halaman gedung itu, membuatku terkesan. Pagi-pagi di hari Minggu begini mereka bekerja keras banting tulang. Peluh-peluh mereka mengucur saat memborbardir tanah dengan senjata canggih masa silam: cangkul. Bersama-sama memotong paralon besi yang panjang-panjang dan besar. Pastinya berat. Tapi aku seperti mendengar sesuara dari tiap gotong royang mereka itu: Bersama kita bisa! Semangat!

 

Pikirku, semuanya mereka lakukan untuk memenuhi hal yang urgen. Menyokong biaya-biaya keluarga di rumah. Atau sekedar mengisi periuk nasi pribadi hari ini jika memang masih hidup seorang diri. Sungguh tak kepalang perasaanku. Gerimis. Membayangkan jahatnya kita, jika kita ini, anak-anak muda yang masih meminta suply dari orang tua. Uang yang orang tua kita kumpulkan diatas tetesan peluh. Tetesan darah. Dengan kerja keras membanting tulang mereka itu. Hanya kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Menghambur-hamburkan uang gak jelas. Hura-hura. Na’udzubillah min dzalik…

 

Di antara para pekerja itu ada seorang anak muda. Perawakannya sederhana. Agak kucel. Tapi wajahnya ceria. Usianya, sepertinya sebaya denganku. Aku tersadar lagi. Umurku ini sudah hampir kepala dua. Sudah dewasa. Harus dewasa.

 

Tak beberapa lama. Seorang pemuda lain seusia kami meluncur dengan sepatu rodanya. Lengkap dengan asesoris pengaman yang kinclong. Seperti atlet. Jadi ingat masa lalu. Waktu SD. Pernah protes sama mama karena gak diizinin beli sepatu roda-yang warnanya haruslah biru-. Duh, Lia…, plis deh! Kata mama, anak perempuan gak cocok main begituan. Banyak mudhorotnya. Weleh-weleh, Risma kecil yang meski sangat dirawat penampakan girly-nya oleh mama, tapi tetap saja, tomboy. Dan sekarang? Hehe. Malu ngomonginnya. Dulu, waktu SD, aku tak membayangkan akan kuliah di Kimia UGM seperti sekarang. Ada satu-dari sekian yang lain- bayangan masa depan yang melayang-layang di imajinasiku: Ninja tangguh. Pemberantas kejahatan. Polwan berjilbab.

 

Pemuda bersepatu roda tadi berputar-putar dengan gagahnya di jalanan taman gedung pusat. Melesat-lesatkan sepatu rodanya dengan mantap. Persis elang yang terbang bebas. Unjuk gigi dengan kelepak sayap tangguhnya. Ke…ren. Tapi biasa aja dink. Kalo dia sholeh, pinter, rajin ngaji dan ngajar ngaji, baik akhlaknya, bakti ama orang tua, ditambah kemahiran khasnya itu, bersepatu roda, nah, baru deh, keren banget dah Mas! Tapi masa iya orang yang seperti itu pagi-pagi begini menghabiskan waktu buat sepatu rodaan? Maybe. Maybe yes maybe no. No jugdement.

 

Para buruh pasang paralon menonton aksi itu sejenak, termasuk si pemuda kucel yang ceria. Pemuda itu tersenyum melihat atraksi pemuda bersepatu roda. Aku menerka-nerka apa yang ada dalam benaknya. Mencoba memahami perasaannya. Hmm…apa ya? Sedih? Membanding-bandingkan nasib? Sepertinya tidak demikian. Pemuda kucel yang ceria kembali bekerja dengan enjoynya. Penuh semangat saat membenamkan diri ke kubangan. Meloncat sigap ke dalam lubang tanah yang dalam itu untuk memasang paralon besi yang panjang dan besar. Nice spirit. Tetap ceria, tetap semangat kawan!

 

Saudaraku. Dari sini, kita bisa mengambil hikmah lagi. Hidup kita ini, sudah ditetapkan ritme-ritmenya oleh Sang Maha Pencipta. Kadar kita, juga sudah ditetapkan masing-masing sebagaimana baiknya. Jadi hanya dengan syukur kita bisa menikmati hidup. Bahwa semua adalah yang terbaik dari-Nya. Kerja keras adalah syair bertuah kita. Dan tawakal adalah melodi pamungkasnya.

 

Wallahua’lam bishsowab…

 

 

Jogja, akhir Juni/Jumadill akhir 1429 H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: