Oleh: sangprofesor | Juli 21, 2008

On the road. Kebumen-Jogja

sawah

sawah

 

Kali ini perjalanan pulang. Acara di Kebumen berakhir pukul empat sore. Kami beranjak menuju APV hitam sewaan dengan ekspresi masing-masing. Dan tentu saja dengan perasaan masing-masing. Baiklah, kuberitahu, barusan tadi itu ada walimahan. Penggenapan dien seorang saudari tersayang.

 

Barokallahulaka wa baroka ’alaika wa jama’a bainakumaa fi khoiri…

Mudah2an Allah memberkatimu baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan…..

 

APV hitam meluncur melintasi jalan-jalan perkampungan. Perjalanan dimulai lagi. Nampaknya akan jauh lebih gampang karena aku dan bu supir sudah kenal medan tempur. Sudah tidak perlu mengeluarkan peta atau tanya sana-sini. Dan menurut perkiraan, kami baru akan sampai di jogja ba’da isya. Sekitar pukul delapan malam. Yap. Hurry up. Let’s go to Jogja!

 

Sebelum meninggalkan Kebumen, sempat mampir juga di hamparan sawah yang luas untuk bikin kenang-kenangan. Apalagi kalo bukan jeprat-jepret narsis dengan latar sawah menghijau yang sungguh indah nan menyejukkan mata itu. Waktu berlalu. Adzan maghrib berkumandang. Sedang kami masih di perjalanan. Dan kami putuskan untuk menjama’nya dengan sholat isya’ sesampai di Jogja nanti.

 

Kami, delapan akhwat dalam mobil ini, baru saja menjadi saksi betapa berbahagianya saudari kami itu. Menyaksikan perjalanan singkat beliau dari ta’aruf hingga aqad yang cuma dua bulan itu, terang saja membuat kami-kami ini histeris. Bahagia. Terharu. Salut. Maka dalam perjalanan pulang ke Jogja itu, topik number one yang di bicarakan saudari2ku adalah seputar itu-itu juga. Nikah. Tentang ta’aruf dan embel-embelnya. Fiuh…

 

Banyak obrolan yang mengagetkan. Yang paling bikin suprise adalah pernyataan seorang saudari di jok belakang, ”yah, maksimal semester depanlah menyusulnya!” subhanallah…Barokallah….aku berdecak! Ckk..ckk..ckk…Semoga dimudahkan ukhti…

 

Di babak yang lain, supir shalehah disampingku sempat tantrum dengan sebuah cerita ”buruk” dari ukhti duduk di bangku paling buntut. Alhasil, dia banting setir. Lalu sedikit ngebut. Sebuah cara yang sangat soft untuk menunjukkan kekesalannya. Aku tersenyum. Mengerti suasana hatinya yang sedang jengkel itu. ”Tenang ukh…” kataku.

 

Ngomong2 tentang si supir shalehah ini. Dia ini adalah tokoh utama perjalanan kami. Sepanjang perjalanan, kami sering jadi perhatian. Ditatap orang-orang. Yah, apalagi, selain fenomena sebuah APV hitam yang isinya akhwat-akhwat muda berjilbab yang seragam pula warna jilbabnya. Putih-putih. Back to main topic. Akhwat multi talenta di sebelahku. Dia ini sering membuatku terhenyak dengan pernyataan-pernyatannya yang tiba-tiba datang begitu saja. Seperti tadi sore sebelum sholat ashar di sebuah mushola POM bensin itu.

 

“Ma, aku pengen deh kayak Fatimah. Dia itu jatuh cintanya cuma sekali seumur hidup. Dan itupun kepada seorang Ali yang luar biasa. Lalu mendedikasikan sepanjang hidupnya buat Ali saja.”

 

Aku sempat bingung harus menanggapi apa. Tersenyum sebentar lalu berujar, “ya ukhti, aku juga mau…”  Saat itu aku menerawang. Membaca apa yang dia pikirkan. First love, endless love. Begitu kan, ukhtiy?

 

Hmmff…, di inbox hp-ku, ada sebuah catatan, bunyinya, “ aku ingin sekaya hati khadijah. Secerdas Aisyah. Sekasih Fatimah Az Zahra dan berjumpa dengan dia yang mencintai Allah, mencintai Rasulullah, mencintai orang tuanya, sebelum dia…”

 

Ya ukhtiy, sungguh, aku bingung harus berkomentar apa, cukup berat bagiku ngobrolin masalah begituan, setidaknya untuk sekarang. Yang jelas aku akan mendoakanmu. Semoga tercapai keinginanmu itu. Aamiin…

 

Balik lagi ke suasana di dalam mobil yang masih meluncur di jalan raya. Setelah membaca al-matsurat bareng-bareng, aku kembali dalam keheninganku memperhatikan pergantian siang menjadi malam. Menatap semburat oranye mentari yang beranjak ke peraduan. Maha suci Allah. Maha besar Allah. Kesempurnaan penciptaan-Nya tak kan bisa disangkal oleh siapapun jua….

 

Supir shalehah di sampingku tak berhenti bersenandung ria. Aku ikuti jika dia bernasyid. Kami bernasyid bersama. Kadang2 aku diam menyimak lagu-lagu selain nasyid yang ia dendangkan. Hmm…referensi lagu ukhtiku ini banyak juga…

 

Senandung nasyid dari tape alami(our mouth) mengiringi perjalanan kami. Tapi, ketimbang bernasyid aku lebih banyak berdzikir sendiri. Apalagi saat hari sudah gelap. Kelam. Membuatku banyak-banyak mengingat mati. Makanya aku jadi jauh lebih pendiam dibandingkan perjalanan tadi pagi. Sampe diteriakin ”Rismaaa…, masih disanakah? Kecapean banget ya?” Aku menoleh ke belakang. Tersenyum simpul pada paduan suara yang seakan tak lelah berkicau itu.

 

Tibalah saat dimana mereka menyenandungkan syair ”keimanan” punyanya Haris shaff-fix. Air mataku tak tertahan. Menetes satu-satu. Membasahi pipiku.

 

”Andai matahari ditangan kananku, takkan mampu mengubah yakinku. terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati. Bilakah rembulan di tangan kiriku takkan sanggup mengganti imanku. Jiwa dan raga ini apapun adanya. Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam. Seujung rambutpun aku takkan bimbang. Jalan ini yang kutempuh. Bilakah ajal kan menjelang…jemput rindu-rindu syahid yang penuuuhh……hahaha”

 

Aku tak begitu paham, kenapa ukhti-ukhtiku begitu ringan tertawa ketika beberapa ukhti suaranya tidak kesampaian di bait terakhir itu. Sepertinya memang lucu mendengar not yang tidak tergapai itu. Tapi…., mungkin penghayatanku pada makna syair itu sudah terlanjur dalam. Yang ada cuma…dzikrul maut. Biarkan aku menangis kini. Dalam henyak yang sendiri. Aku mau…aku mau bertemu Allah sekarang…tapi  amalku belumlah cukup…ya Rabbi…rasanya aku tak layak ke surga-Mu, tapi aku juga tak sanggup ke neraka-Mu….

 

Dan nasyid itu pun mereka lanjutkan,

“…bilakah ajal kan menjelang…jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan…cintaku hanya untuk-Mu, tetapkan muslimku selalu….”

 

Dalam usap air mata malam itu, aku tersenyum. Kalau kemarin diingatkan lewat kajian, sekarang diingatkan melalui semua ini. Bersyukur telah diberi ukhti-ukhti yang sepanjang perjalanan ini selalu mengingatkanku pada Allah. Bersyukur untuk kesempatan melakukan sebuah perjalanan. Bukan perjalanan biasa. Tapi sebuah perjalanan jiwa. Alhamdulillah….terimakasih ya Rabb…

 

 

Kebumen-Jogja, 060708

Iklan

Responses

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  2. minta izin download foto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: