Oleh: sangprofesor | Juli 21, 2008

perjalanan singkat di sore hari

Jam empat sore berangkat dari kost menuju fakultas teknik. Salah satu fakultas yang terhitung jarang kukunjungi. Ceritanya tadi pagi dapet sms dari panitia TOEFL-like bahwa sertifikat sudah bisa diambil di sekre mushola teknik. Sampai disana, clingak-clinguk nyari sekre mushola. Sempet bingung juga. Pasalnya di sekitar mushola itu adanya ikhwan semua. Berhenti sejenak di bawah pohon. Ada seorang ikhwan yang kebetulan lewat. Maka bertanyalah aku.

”Maaf Mas, mau nanya, sekre mushola teknik yang mana ya?”

 

”oh…, ini Mbak…” katanya seraya menunjuk ke sebuah bangunan di dekatku.

 

”oh, iya, makasih Mas” Aku pamit menuju tempat yang dia tunjuk.

 

Agak bengong, karena pintu ruangan itu ditutup rapat-rapat. Jendela-jendela kacanya juga ditutup. Hanya ada gelap di dalam sana. Sekre kosong. Ikhwan yang tadi menyapa lagi,

 

”gak ada orang ya Mbak?”

 

Kaget. Terbata aku menjawab. ”Eh. Iya.”

 

”Biar saya panggilkan. Orangnya ada di sana. Tunggu sebentar Mbak…”

 

”Oh. Iya. Makasih.”

 

Baru saja menjawab pertanyaannya, mataku menangkap penampakan sebuah amplop coklat ditindih batu seukuran jeruk mandarin di depan sekre. Kudekati. Kubaca tulisan yang tertera. ”SERTIFIKAT TOEFL. SILAHKAN DIAMBIL.”

 

Buru-buru aku menengok ikhwan yang tadi, pengen bilang, ”tidak usah panggil orang Mas! saya cuma mau ambil sertifikat ini!” Tapi terlambat. Dia sudah menghilang. Cepat sekali!

 

Sertifikat sudah kutaruh di silver bag. Tak lama, ikhwan tadi muncul dari sebuah bangunan di barat mushola dengan  seorang ikhwan yang lain. Ikhwan yang tadi berujar dari kejauhan, ”ini orangnya Mbak…” Lantas ia ngeloyor ke tempat lain. Cepat-cepat aku menyahut, ”oh, ini Mas, saya cuma mau ambil sertifikat TOEFL, makasih Mas!”

 

Sambil gadhul bashar, ikhwan kedua yang sudah mendekat menjawab, “emm…,” Jawaban singkat. Nadanya bingung. Menggantung. Seperti masih ragu. Mengangguk pelan. Lalu pergi berbalik arah. Kembali keharibaan. Aku pun sesegera mungkin mengayuh si Gogon sepeda yang baik. Pergi dari sana.

 

Hfuuf…, malu bertanya sesat di jalan. Jadi bertanyalah. Tapi kalo udah bikin repot dengan hal-hal yang sepele, bikin bingung orang, kok rasanya gak enak banget ya! Maafkan. Lalu, soal nilai TOEFL. Tidak usah membahas nilai TOEFL-ku ya. Mengenaskan!

 

Sore yang teduh, sepulang dari mengambil sertifikat TOEFL, kuputuskan untuk jalan-jalan naik sepedanya ya’nun. Refreshing. Sekedar mencari hikmah dengan cara berjalan di muka bumi. Ups, bersepeda di muka bumi dink! Kan mengayuh sepeda dengan pasti… mengarungi kampus UGM ini….

 

Sampailah aku di tempat favorit penuh inspirasi, yang selalu nyaman dijadikan sebagai tempat menyendiri. Area gedung pusat UGM. Tempat ini kalo sore-sore sejuk sekali. Belaian angin senja yang sepoi-sepoi,  dedaun berguguran di sekitar gedung berpilar megah itu membuatku nyaman. Segar. Damai. Apalagi jika memandang pohon-pohon di hutan fakultas kehutanan. Subhanallah. Tiadalah Allah mencipta semua itu dengan sia-sia. Kalau tidak ada pepohonan itu, alangkah ngerinya area ini. Berpolusi. Asap kendaraan yang tak terkendali pasti mendominasi. Mengontaminasi udara ambient. Dan pastilah tak ’kan kudapati suasana sesejuk ini.

 

Selanjutnya puter-puter di sekitar maskam. Area perumahan Bulaksumur. Pusat studi-pusat studi UGM. Rumah-rumah dosen UGM. Lagi-lagi tempat yang nyaman. Pepohonan rindang, rumah-rumah jadul sederhana tapi menawan, jalan-jalan yang pastinya sangat aman. Para tukang kebun, pemilik rumah, mereka sedang menata pekarangan rumahnya, menyirami tanaman, memangkas rerumput, menyapu halaman rumahnya. Hatiku bergemuruh menyaksikannya. Ah…..aku rindu rumah.

 

Aku terus mengayuh sepeda, menerobos jalan-jalan yang belum pernah kulalui sebelumnya, sampailah aku di sebuah tempat tersohor yang kudengar cerita harunya dari anak-anak BEM. Salah satu tempat bermukim anak-anak jalanan Yogyakarta. Sebuah tempat yang berbeda dari keasrian dan kenyamanan perumahan seperti di Bulaksumur itu. Satu sisi kota Jogja yang lainnya.  Kali Code. Sebelum sampai disini, terlebih dahulu kususuri lelengkuk kawasan Blimbing Sari. Gang-gang kecil bercabang-cabang. Tidak mulus. Banyak bebatuan kecil. Gundukan-gundukan jalan yang orang-orang sebut sebagai polisi tidur itu pun kerap mewarnai perjalananku.

 

Sepanjang perjalanan ini, aku cukup banyak menyapa orang. Sekedar senyum, menyapa dengan isyarat menganggukkan kepala. Atau tersenyum, menganggukkan kepala sambil bilang, ”mari Pak….” atau ”mari Bu….”. Dan kebanyakan yang kusapa itu, adik-adik kecil, gadis-gadis muda, para orang tua, bapak-bapak dan ibu-ibu itu akan tersenyum pula, membalas ramah sapaanku dengan menjawab, ”monggoo…..” Kuliah di kota ini benar-benar menakjubkan. Salah satunya karena bisa bersentuhan langsung dengan keramah tamahannya. Jogja yang sederhana. Jogja berhati nyaman. Dan semua itu membuatku tersenyum. Selalu. Alhamdulillah.

 

Untuk sampai di bantaran kali Code, aku sempat melewati sasana warga Blimbing Sari. Musik aerobic mengumandang kencang. Ibu-ibu muda terlihat bergerak dalam satu aba-aba. Senam bersama, dengan kostum yang super ketat bin seksi bin ngeri-tun itu. Entahlah. Aku tertunduk. Menggerutui diri sendiri. Medan juang teramat luas, Lia. Dan semuanya butuh sentuhan!! Aku menghirup nafas panjang-panjang. Dalam-dalam. Kemudian langkahku sampai pada episode yang baru. Harus menuruni tebing-tebing yang cukup curam. Terjal. Saat turun memang tidak masalah. Sepeda bisa kutuntun sambil direm. Tapi saat naiknya nanti. Hfuuf, akan lumayan bikin ngos-ngosan! Apalagi ada si Gogon yang mesti dituntun. Yah. Lumayanlah. Itung-itung melemaskan otot tangan dan kaki. Riyadhoh. Olahraga. Alhamdulillah sempat juga!

 

Di bantaran kali Code itu, di seberang sana, terlihat sebuah surau kecil bertembok kusam. Perumahan di sekitar sini dibangun berdasarkan tekstur ketinggian tanah masing-masing. Lumayan, cukup tertata, setidaknya tidak begitu tampak semrawut dibanding pemukiman yang ada di bantaran kali-kali kota Jakarta. Ohya, apa kabar Jakarta hari ini?

 

Di seberang kali itu, anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain sepak bola, lari-larian gak jelas, ada juga yang main air. Mandi-mandi sambil gelut-gelutan di bawah jembatan kayu itu. Betapa riangnya rupa mereka. Haru aku menatapnya. Tapi, Dek, airnya itu kotor… Aku menatap ke bawah sana. Kepada sampah-sampah bergelayutan yang membuatku mendesah panjang. Bertanya dalam hati. Apa yang bisa kulakukan untuk Kali ini? Membuatnya terlihat  indah dan bersih…, bisakah? Aku jadi teringat program KKN-nya pak Jalu. Katanya, beliau KKN di pemukiman kali Code. Bantu-bantu penduduk disana dan bikin beberapa program kreativitas buat masyarakat di sekitar kali. Hmm…sebenarnya aku sudah punya rencana untuk KKN tematik tahun depan. Dan planningnya sih di Bantul. Proyek anak-anak kimia UGM. Bikin pupuk dari limbah pabrik untuk pengembangan usaha tanaman hias penduduk desa di sana. Tapi, kayaknya kali Code di dekatku ini juga butuh dibantu. I dont know. Kepalaku pusing. Sejak tadi pagi memang kondisi tubuhku kurang fit. Aku beranjak dari nada-nada syahdu tempat itu. Aku pulang.

 

Sekali-sekali. Berjalan di muka bumi. Melihat beragam sisi kehidupan yang ada di hamparan dunia ini. Perjalanan singkat di sore hari. Not more than two hour. Sekalipun cuma keliling-keliling area sekitar UGM di sore yang singkat ini. Namun, bisa kuresapi juga cerita petualangan seorang saudari yang berkelana ke Bandung dan ke Bogor tempo hari dulu itu. Juga ceritanya Andrea Hirata.

 

“Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini.” (Andrea Hirata)

 

Saat ini, setelah menuliskan pengalaman ini, aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya lagi. Ada sedikit kelegaan. Karena kini pula saatnya aku berdoa lagi. Ya, ada doa yang mengiring disetiap aku menoreh sebuah cacatan. Ya Allah, semoga apapun yang aku tulis ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Aamiin…

 

 

Kota gudeg, Rajab 1429 H

Iklan

Responses

  1. aku tak terlalu mencitai kehidupan ini……
    aku hanya mencitai smua orang didalam kehidupan ini……….

  2. seru ya pengalamannya….
    soal softcopy readit nevermindlah.
    oh iya,
    kalo mau nyetak buletin yang murah kayaknya di MITRA jalan baosasran. saya nyetak READIT MAba 2008 disitu. Tapi pake mesin yang bagus hehe… (duitnya lebih, sayang kalo gak dihabisin)
    Waktu saya bilang saya dari MIPA UGM dia bilang anak mipa yang lain juga sering kesitu.
    dia bilang: “oh, anak KIMIA ugm juga uda sering nyetak ke sini. mbak2 gitu.”
    saya bilang:” anak kimia? mbak2 lagi. siapa yang sering nyetak ya. cetakannya kualityas bagus lagi. setau saya (2 tahun di mipa) gak ada yang nyetak buletin cetakan bagus di mipa.”
    saya bilang:”namanya siapa mbak? (jangan2 risma lagi)”
    dia bilang:”orangnya ganti2 kok mas. gak tau juga.”
    jgn2 kamu ya ris?

    perkiraan kalo cetak disana:
    paperplate rp 5000
    ongkos cetak rp 5000/rim
    uang kertas 850/plano (8 b4)
    Jadi anti gak perlu bawa kertas sendiri, uda disediain kertas yang ukurannya pas, jadi gak boros, hemat duit dan save the earth juga kan?

  3. assalamualaikum

    akh gambarnya keren…. ada karikatur ikhwan gak

    jaln-jaln ke blog ane ya akh

    assalamualaikum

  4. senja menyelinap dibalik relung-relung suara yang tak pernah ku mengerti mengapa setiap kejadian terhampar begitu banyak harapan, tetapi juga terdampar begitu banyak kemaksiatan.
    ingin rasanya tubuh ini menjadi bantalan kehidupan yang entah sampai kapan akan menjadi lebih baik
    begitu banyak hal yang tidak diinginkan tersedia sepanjang perjalanan hidup ini
    terkadang diri ini merasa takut ketika sebuah pertanyaan di tengah malam yang dingin disaat air mata menetes perlahan disetiap sujud.
    “jika hari ini allah memanggil saya, masuk surga atau neraka-kah saya?”

  5. silaturrahmi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: