Oleh: sangprofesor | Mei 3, 2010

Correct ur self :)

Biasakan menjadikan kesalahan orang lain sebagai cerminan bagi diri kita. Apakah kita sudah melakukan hal yang benar, apakah kita sudah lebih baik dari orang tersebut, dan apakah kita sudah patut untuk menyalahkan orang tersebut..??
Kalau kata temen saya, jari yang menunjuk itu cuma satu yang mengarah ke orang lain, sisanya mengarah ke kita.😉
Walaupun saya juga sadar, tidak semua dari kata-katanya itu yang benar,,, karena sebenarnya dengan posisi jari yang menunjuk seperti itu, cuma 3 jari yang mengarah ke kita, yang satunya (si jempol) mengarah ke samping,,, kecuali kalo nunjuknya pake cara ala jawa yang pake jempol, daleeem..
😀😀
*jangan pada praktekin,,,😛 (yah…telat. udah dipraktekin langsung pas lagi ngebacanya tadi, mbak… :”>)

Seperti melihat belek alias kotoran mata di mata teman kita. Kita punya 3 pilihan,,,
Pilihan pertama, langsung memperingatkan teman kita itu dengan resiko kalau ternyata keadaan kita sama saja dengan dia, siap-siap saja di beri komentar “kayak kamu aja ga,,,😛 ”
Pilihan kedua, mengucek terlebih dahulu mata kita dan memastikan kita tidak dalam keadaan yg sama dengan dia, tapi kita tetap membiarkan teman kita itu tanpa memperingatkan tentang hal tersebut. Entah itu karena alasan sungkan langsung menegur ataupun karena ingin membiarkannya sadar sendiri dengan kondisinya tersebut. (biasanya orang kalau melihat orang lain mengucek mata ikutan ngucek juga kan,,🙂 )
dan yang terakhir, Pilihan ketiga, mengucek mata kita juga baru setelah yakin kita tidak memiliki kondisi yang sama, atau mungkin kita lebih dahulu menemukan kotoran mata yg sama lalu membersihkannya, baru kemudian kita memperingatkan teman kita tentang kotoran matanya.

😀😀
*maap, ngasih contohnya agak2 jorky gini,,,😀
**dan sy juga yakin, kebanyakan dari kita cenderung melakukan pilihan kedua,,, ^_^v  (engg…, engga juga tuh, mbak… saya lebih cenderung ke pilihan ketiga nih! kayaknya… :D)

well…
Pilihan pertama, itu naluriah,, kenapa disebut naluriah? karena manusia memang memiliki sifat yang lebih mudah menemukan kesalahan orang lain di banding menemukan kesalahannya sendiri dan yang kedua, orang yang di tunjukkan kesalahannya akan secara otomatis melakukan defensif. Kalau bukan mengelak ya dia akan balik menunjukkan kesalahan orang yang memberitahu kesalahannya tersebut. >,<

Pilihan kedua, wajar.. Wajar, karena orang yang sadar sudah ataupun sedang melakukan kesalahan yang sama akan merasa sungkan untuk mengoreksi kesalahan orang lain. Atau mungkin tidak peduli jika orang lain melakukan kesalahan. Juga, karena orang yang melihat orang lain melakukan kebaikan (mengoreksi kesalahan sendiri) juga cenderung untuk mengikuti hal positif seperti itu.

Pilihan ketiga, yang seharusnya… well, kayaknya sudah jelas. Koreksi diri sendiri dulu baru kemudian mengoreksi kesalahan orang lain. Walau banyak juga yang mengatakan, kalau menunggu kita untuk sempurna kapan kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Yup, setuju juga, jadi mungkin ada baiknya melakukan perbaikan diri sendiri sambil terus melakukan perbaikan pada orang di sekitar kita.

Dalam buku Prophetic Learning-nya Dwi Budiyanto, Istiqamah berarti perbuatan yang terus menerus (berulang) yang menuju titik kesempurnaan. Sepakat ma ini.. karena bukan perbuatan mengulang yang monoton, tapi pengulangan yang mengandung perbaikan menuju kesempurnaan ^_^b

So, keep Istiqamah ^_^b
🙂

-still have to learn more-

***

note:

~ngopas dari blognya mbak Uchi… dengan pengubahan emotion semirip mungkin(btw, fitur emotion wp kurang lengkap dibanding MyQ, tapi ya gapapa, wp… jadi bikin saya lebih kreatif nyari icon pengganti.. keep fighting, keep smiling dah! thanks to wp :D) serta penambahan komen kecil2an(yg font-nya warna blue), he ^_^V~


Responses

  1. pilihan pertama, sering dilakukan oleh anak-anak kecil dan juga orang2 yang bersifat kekanak-kanakan.
    pilihan kedua, dilakukan oleh orang dewasa dan sedikit tidak peduli dengan orang lain.
    pilihan ketiga, dilakukan oleh orang yang bijaksana

    Perbaikan diri memang harus didahulukan, sebelum memperbaiki orang lain. Memang bener bukan berarti nunggu sempurna, tetapi begitu kita telah merasa mampu berbuat baik pada suatu hal, segera kita lakukan usaha mengubah lingkungan pada hal-hal yang telah berhasil kita lakukan.

    • seperti bilangan asli, ya…? mulai dari angka 1…

      bismillah…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: