Oleh: sangprofesor | September 22, 2010

When Syawwal is coming…#1

hatiku sedih, hatiku gundah
tak ingin pergi berpisah…
hatiku bertanya, hatiku curiga,
akankah ku temui kebahagiaan seperti disini…?

1 Syawwal. Hari raya idul fitri a.k.a lebaran tentunya adalah sebuah momentum yang sangat dinantikan oleh kebanyakan orang Indonesia. Apa pasal? Karena memang bisa dikatakan lebaran di Indonesia adalah the real holiday. Karena jika hendak kita bandingkan dengan hari-hari libur lainnya, sebut saja waktu liburan anak sekolah/kuliah dan hari raya-hari raya yang lainnya, maka libur lebaran di negeri dengan penduduk yang mayoritas muslim ini memang sungguh jauh lebih dasyat! Inilah masa dimana masyarakat akan memberikan “ekspresi” tingkat tinggi, masa dimana para perantaunya akan berbondong-bondong menjadi pemudik, dan jalanan di kota-kota yang biasanya ramai pun mendadak menjadi sepi. Ya, pulang ke kampung halaman, kembali dalam dekap hangat keluarga, menyambung tali silaturrahim dengan tetangga, handai taulan atau kolega, sepertinya menjadi hal yang hampir tak terlewatkan saat lebaran menjelang.

Namun, dalam pada itu, sesungguhnya momentum lebaran itu sendiri adalah hari yang dengannya sempurnalah kebahagiaan orang-orang mukmin dengan berbuka total setelah sebulan berpuasa dan bergembira setelah berbuka dari puasa harian. Maka inilah lebaran itu, sahabat. Satu momentum, momentum kemenangan bagi mereka yang menjalankan ibadah shaum sebenar seperti panggilan di dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 itu. Dimana zakat fitrah(atas kaum muslimin) menjadi pembersih bagi mereka yang berpuasa sekaligus tanda kasih bagi mereka yg dhuafa, orang-orang miskin. Dimana “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” menjadi begitu semarak–sekalipun sebenarnya maaf-memaafkan bisa dilakukan setiap waktu memang— hingga ukhuwah makin erat atau mengikat kembali tali silaturrahim yang tadinya mungkin terputus? Dan jugalah menjadi satu momentum, dimana setiap muslim-termasuk saya- pastinya merasakan sensasi tersendiri …

Saat takbir menggema di awal malam 1 Syawwal…
atau di penghujung Ramadhan waktu itu…
Adakah air matamu berlinang, sahabat…?

Ya, betapapun, Ramadhan-lah yang ”berjasa” mengantarkan kita pada momentum lebaran ini. Karena kalau kata seorang sahabat, ”Kalo engga ber-Ramadhan, gimana mau berlebaran?!”. Maka Ramadhan adalah bulan yang benar-benar istimewa…. Satu bulan yang jika ia beranjak pergi, sesungguhnya hati ini bersedih, satu bulan yang akan sangat kita rindukan perjumpaan(kembali) dengannya. Lalu dengan meminjam satu kalimat dari sebait syair OST petualangan Sherina yang mengawali tulisan ini, kepergian Ramadhan pun mungkin akan membuat satu tanya bagi kita, ”akankah ku temui(kembali) kebahagiaan seperti disini, seperti di bulan Full barakah ini…?”

Dan karena kita tidak tahu, apakah kita akan berjumpa lagi dengan bulan bertabur barakah itu di tahun berikutnya…dapatkah kita kembali menikmati lezatnya itikaf di 10 ramadhan terakhir yang sunah muakadah itu? Masih bisakah kita menebak-nebak kembali kapan tiba malam yang lebih baik dari 1000 bulan di dalamnya itu? apa kita masih punya umur lebih dari hari ini….?

Sungguh, bagiku, Ramadhan adalah momentum yg mungkin lebih spesial dari lebaran itu sendiri, disinilah masing-masing kita ditempa untuk dapat mengukur diri sendiri. Kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk berbekal secara maksimal; Puasa sebulan penuh, qiyamul lail tiap malam, tadarus sampai khatam, dzikir pagi petang jangan sampe tinggal, infaq usahakan selalu jalan, silaturrahim ke rumah kawan, mungkin juga ngasih ta’jilan…dan segala macam rupa kebaikan itu…

Maka sesampainya di bulan syawwal ini, yang ada adalah memantapkan perbekalan tsb untuk menyongsong 10 bulan berikutnya, insyaAllah. Seperti yang kita ketahui, Rasulullah pun mengajak kita untuk ”mengikuti” puasa Ramadhan dengan menambah enam hari di bulan Syawwal ini. Mungkin agar kaum muslimin tetap menyambung tali ketaatan kepada Tuhannya. Dan agar semangat beribadahnya tidak hanya di bulan Ramadhan saja.

”Tidaklah hamba-Ku lebih aku cintai, ketika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan apa yang aku wajibkan. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan Aku sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan Aku sebagai tangannya yang ia gunakan untuk bekerja, dan Aku merupakan kakinya yang gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, dan jika ia berlidung diri kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya”. (HR Bukhari)

When Syawwal is coming, berharap bisa Istiqomah dalam beribadah hanya kepada-Nya, dan Ramadhan kemarin menjadi titik awal perubahan; untuk senantiasa menjadi lebih baik ke depannya. Semangat berlomba-lomba meraih keridhaan Allah pun terjaga. Amin ya Rabbal’alamin.

Allahua’lam bishshowab


Responses

  1. syaWWalun=meningkat
    syaWalun=melempar

    syawwalan= peningkatan
    syawalan=lempar-lemparan [versi joke..]

    happy SYAWWAL……

  2. hehe, baiklah2… insyaAllah akan segera saya ganti dengan lughotan arabiyahnya yg baik dan benar itu…

    syukran pak, sudah mengingatkan.. jazaakallah khairan katsir

    *happy SYAWWAL…. ^^b


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: