Oleh: sangprofesor | September 26, 2010

Sebentuk Cinta Untuk Anak SMP: Sebuah Cerbung #1

Gerakan SEO Positif

Sebenarnya saya hanya sekilas membaca beritanya dari sini, dari sana, dan dari sumbernya. Lalu kroscek via abu google menghantarkan saya pada suatu pemahaman yang rasanya cukup untuk kemudian membuat saya menuliskan-sekaligus mempublikasikan- penggalan2 kisah yang based on true story ini.

Maka inilah Sebentuk Cinta Untuk Anak SMP itu…
Sebuah cerbung, alias cerita yang harapannya bisa nyambung dink, :p
dan semoga aja bisa diambil hikmahnya. Amin…

~Selamat menikmati apel2 ini~

***

ReD aPple 1
Kesan Pertama

Pagi yang tak begitu cerah. Pada akhirnya, ku jejakkan juga kakiku di Madrasah Tsanawiyah Negeri(MTsN) 1 Kota Bengkulu. Sebuah sekolah yang ke depannya akan mewarnai hari-hari putih biruku. Padahal, pada waktu yang sama, namaku juga telah terdaftar dalam presensi sebuah kelas unggulan di Sekolah Menengah Pertama(SMP) Negeri yang terfavorit di kotaku, SMP Negeri 2 kota Bengkulu. Ya, Mama memang sudah mendaftarkan namaku di dua sekolah sekaligus, SMP Negeri 2 dan MTsN 1, dan dua-duanya diterima. Nilai UN SD yang rata-rata delapan koma sekian itu sebenarnya bisa menghantarkan aku untuk memilih bersekolah dimana saja yang aku mau. Dan tentu saja, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melanjutkan tholabul ilmy di sekolah yang terbaik menurutku, yaitu SMP Negeri 2. Tapi nasehat Papa sebagai kepala keluarga rasanya memang berpengaruh besar atas semua ini.

”Papa pengen kamu berbekal ilmu agama yang cukup, karena itulah yang akan menghantarkan kita pada kebahagiaan hakiki. Nah, karena kamu ga jadi masuk pondok pesantren kaya kakak-kakakmu itu, makanya sekarang masuk Madrasah Tsanawiyah aja ya… insyaAllah yang terbaik buat Lia”

Gempa 7,8 SC yang mengguncang kota Bengkulu tepat di malam hari pertama UN SD waktu itu menggagalkan rencanaku untuk menyusul mereka, kakak-kakakku, ke tanah rantau di Jawa sana, menimba ilmu di PonPes pimpinan Ust. Abu Bakar Ba’asyir, PonPes Al Mukmin di Ngruki, Sukoharjo. Kekhawatiran Mama, serta dukungan Papa, yang kemudian menghendaki agar aku bersekolah di Bengkulu saja. Aku memahaminya. Aku pun sadar akan menjadi berbeda dari mereka, yang setamat SD langsung dikirim ke Jawa, mondok di Ngruki. Namun aku hanya tersenyum dan berujar pada Mama,

“Ga di Pondok juga gapapa, Ma…”
“Dimanapun dan apapun sekolahnya, asal ada kemauan untuk belajar jadi anak yang baik, pasti akan jadi anak yang baik. Semua itu ‘kan tergantung anaknya sendiri.. ya ‘kan, Ma..!?”
“Lia akan berusaha jadi yang terbaik buat Mama. Ga akan kalah dari kakak-kakak. Menjadi anak shalihat dan berprestasi, kebanggaan Mama dan Papa”

Ya, gagal masuk pondok dan ”nyangkut” di MTsN 1 Kota Bengkulu memang yang terbaik mungkin. Tapi pagi hari itu aku benar-benar memasang muka masam. Sebal bin kesal.

”Ayo, kesini kalian! Baris yang rapi disini!” Kata seorang wanita paruh baya dengan raut muka  jutek.

Aku dan beberapa teman yang lain pun menurut saja. Wanita itu ternyata mengumumkan hukuman untuk kami. Nah, bagaimana tidak menyebalkan, kawan? Di hari pertama aku masuk sekolah ini, dengan status daun muda alias ANAK BARU, aku sudah diberi hukuman. Aku harus membersihkan seluruh halaman sekolah. Yang satu itu tidaklah mengapa. Tapi soal hukuman mengangkut batu-batu untuk dimigrasikan ke tempat yang katanya lebih strategis itu, ”Yang benar saja!? Mama aja belum pernah nyuruh-nyuruh aku kerja berat kaya gini…” gumamku dalam hati. Lagipula, sudah jelas dikatakan bahwa di sekolah ini ’kan tidak ada ospek? Maka saat sedang menggotong-gotong bebatuan itu, sempat juga aku menggerutu,

”Ga tahu apa, ya?! Kami ini ’kan anak baru… kok sambutannya kaya begini sih?! Malah disuruh ngangkut-ngangkutin batu!? Hehh… Capek… kalo saja pagi ini aku berangkatnya ke SMP 2, pastilah ga kaya begini ceritanya…”

Entah siapa yang jadi bulan-bulanan keluh kesahku, yang jelas, mereka-mereka yang mendengarkannya akan segera mafhum bahwa ada seorang murid yang menyesal untuk telah berangkat ke madrasah setaraf SMP itu tepat di hari pertamanya masuk sekolah. Ya, kesan pertama yang begitu menyebalkan, tapi tak lama kemudian aku segera tersadar dan beristighfar sendiri, lantas berusaha menerima semua hukuman tadi dengan lapang dada, ikhlas, hingga batu-batu yang diangkut pun menjadi terasa jauh lebih ringan dari semula. Semua hukuman ini terjadi karena kesalahan diriku sendiri, ’kan??! Pastinya. Siapa suruh datang terlambat?

Seusai menjalani pahit getir hukuman atas keterlambatan, dalam kondisi berpeluh keringat, aku menuju sebuah kelas yang telah ditetapkan untukku, sebuah kelas yang ternyata ditempati oleh kumpulan anak baru dengan nilai UN SD tertinggi di sekolah ini, sebuah kelas yang nantinya akan menghantarkan aku pada sebuah cerita cinta luar biasa.

To be continue…


Responses

  1. Alhamdulillah…

    sips2…🙂

  2. pengen tau lanjutannya……^_^

  3. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  4. ^^

  5. makanan (mmm)

  6. whoaaa.. jalan2 akhirnya teh nyampe juga kesini. alhamdulillaah.. ^^

  7. lama juga ga berkunjung ke blog risma…setelah hampir setahun blog sendiri ga diurus…nice blog

  8. a similar story🙂

  9. Assalamu’alaikum mama… ada award untuk risma di blog yu2… silahkan diambil… semoga tambah semangat bikin tulisan di blognya…

    klik di sini:
    http://pengayuhkereta.wordpress.com/2011/02/16/bagi-bagi-award/

  10. Lumayan Lah cerita nya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: