Oleh: sangprofesor | Februari 28, 2011

Metamorfosa

Bank Mandiri cabang UGM Yogyakarta ramai, dipenuhi oleh para mahasiswa yang hendak membayarkan uang operasional perkuliahan. Sambil menunggu panggilan dari teller bank, maka aku pun terlibat dalam sebuah percakapan sederhana dengan seorang mahasiswi yang duduk di sebelahku. Mahasiswi ini kelihatannya berasal dari kalangan keluarga berada. Saat itu ia mengenakan celana jeans ketat, baju kaos dan kerudung mini yang ujung-ujungnya dililitkan pada leher. Mungkin kontras dengan busana yang kukenakan. Namun kurasa itu semua tidak menghalangi kami untuk berkenalan dan berbincang-bincang.

Awalnya kami berkenalan seperti biasa. Ternyata ia berasal dari pulau yang sama denganku, pulau Sumatra. Hanya saja ia dari Palembang dan aku dari Bengkulu. Kesamaan latar belakang daerah membuat kami jadi punya bahan obrolan, hingga pada akhirnya ia bertanya kepadaku,

“Eh, kamu tahu pondok pesantren untuk mahasiswi ga?”

Aku tertegun sejenak. Ia menanyakan tentang hal ini, apa ia tertarik untuk nyantren, ya? batinku. Lalu akupun mulai membagi info kepadanya terkait beberapa pondok pesantren mahasiswi yang aku ketahui di wilayah Yogyakarta ini. Pondok pesantren-pondok pesantren semacam itu dikhususkan untuk para Mahasiswi yang mau memperdalam ilmu agamanya. Jadi, siangnya mereka tetap dibebaskan untuk kuliah dan beraktivitas yang lainnya, lalu selebihnya, pagi sebelum berangkat kuliah dan saat malam sebelum tidurnya diisi dengan aktivitas belajar agama seperti mengaji, menghafal, serta program-program menuju kebaikan yang lainnya. Dan seperti pondok pesantren pada umumnya, mereka harus tinggal/menetap di asrama tersebut dalam kurun waktu akademik yang telah ditetapkan.

Sayangnya waktu itu bukanlah masa-masa penerimaan santri baru di pondokan-pondokan yang aku tawarkan. Maka, beliau yang terlihat cukup antusias hanya bisa memberikan nomor handphonenya kepadaku agar bisa dihubungi kembali apabila aku mempunyai info terbaru. Pembicaraan kami pun terputus saat teller bank mengisyaratkan nomor urutku dapat giliran untuk maju. Sementara ia pun sibuk menerima panggilan telepon dari handphonenya, sepertinya dari teman laki-lakinya, apakah itu  pacarnya? Aku tidak tahu.

Pekan demi pekan pun bergulir, awalnya aku sesekali mengabarinya info-info terkait kajian Islam di seputaran kampus UGM. Barulah setelah ada info tentang penerimaan santri baru di salah satu pondok pesantren mahasiswi itu, aku kembali mengabari beliau. Sampai kuterima kabar bahwa beliau berhasil lolos tes tulis dan wawancara sehingga bisa mulai  mondok disana.

Dua tahun telah berlalu dari kejadian itu. Pendidikan, pembinaan, serta lingkungan di pondokan pesantren mahasiswi itu ternyata telah membuat sosok tersebut bermetamorfosa seperti kupu-kupu yang indah. Ia yang kini selalu kutemukan di sela-sela peserta kajian di Masjid Mardliyah UGM itu telah mengenakan jilbab yang serupa dengan yang kukenakan dulu. Jubah yang tak menampakkan lekuk tubuh, kerudung yang lebar menutupi dada, dekker sebagai pelengkap pergelangan tangan yang kerap tersingkap, serta kaos kaki. Tutur katanya pun semakin halus. Dan jangan dikira ia hanya sekedar peserta kajian biasa yang mendengar kajian lantas pulang, karena lebih dari itu, ia sekarang telah menjadi salah satu dari para penggerak Forum Silaturrahim dan Dakwah disana. Maka tak hanya keshalehan pribadi, namun ia berusaha pula membangun kesholehan sosial. Adapun agenda-agenda dakwah itupun ia pula yang turut menggagas dan menggerakkannya.

Metamorfosa…

Kupu-kupu mungkin akan memberikan keindahan kepak sayapnya setelah mengalami fase tersebut. Namun berbeda dengan Ngengat. Setelah menjadi kepompong, Ngengat justru sebaliknya, ia jelek dan merusak. Bahkan di daerah iklim sedang, Ngengat Codling kabarnya akan membuat kerusakan yang parah pada hasil perkebunan buah para petani.

Setiap orang pasti berubah, karena satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri, dan selalu ada proses didalamnya. Entah itu cepat atau kah lambat, entah perubahan itu menuju kondisi yang semakin baik atau semakin buruk atau berhenti ditempat, stagnan, fisiknya saja yang semakin menua? Yang jelas, selain tekad dari dalam diri, lingkungan pastinya turut memberi pengaruh pada perubahan dalam diri seseorang, sedikit atau banyak.

Seperti sabda Rasulullah dalam sebuah riwayat, bahwa seorang muslim itu cermin bagi muslim yang lain. Bahkan agama seseorang pun dapat dilihat dari agama temannya. Betapa dasyat kedudukan sahabat. Maka ada teman yang seperti penjual minyak wangi, ada pula yang seperti pandai besi. Yang satu mungkin akan memberikan minyak wanginya, atau setidaknya akan tercium aroma wangi darinya, sedangkan yang satu lagi akan memberikan percikan api atau setidaknya kau akan mencium aroma yang tidak sedap dari dirinya.

Ya, betapapun, semoga saja metamorfosa tiap-tiap kita adalah metamorfosa menuju kebaikan. Amin.

Wallahua’lam bishshowab

*)Satu dari sekumpulan yang terbuang dalam “METAMORFOSA”; antologi kisah inspiratif bersama sahabat-sahabat klub jumat FLP CERIA DIY 2010


Responses

  1. Alhamdulillah,
    makasihbanyak ya Allah, Engkau telah mempertemukan hamba dengan sahabat-sahabat yang berakhlak mulia… semoga kita bisa saling melengkapi

  2. aamiin…. ^^ *black and white? surga dan neraka kah? like ust awan and ust adi? :p

  3. jyah, malah ketemu ama temennya ant yg nervous pas mau wawancara, hahaha…
    *tertarik dengan statement FLP Jogja-nya, apa kabar komunitas kita itu?

  4. namanya juga akhowat, pak…. *dimaklumkan* ^^

    nb. kabar terakhir, akhir 2010 kemarin FLP DIY ada program pemutihan anggota, pak. penge-nol-an anggota FLP… pak Panji sdh registrasi ulang kah?

  5. ohya, syukran ya, pak, atas bantuannya yg dulu itu. arigatou gozaimasu, jazaakallah khairan katsir ^^

    • wah, sy kurang tw inpo itu bos… siapa yah SDM-nya skrg? minta tolong register ulang dong…
      *sami2, semoga b’manfaat aja, semua pasti ada hikmahnya bos*

      • oh iya, beberapa waktu lalu flp juga sudah musywil. kepengurusan baru dink, dan risma cuma taunya kalo sdr Angga yang jadi pengganti mas Prima.

        info lengkap santap jogja bisa dilihat disini, pak

        http://flpyogya.multiply.com/journal/item/32

        risma juga blm register ulang.. tp kata mr.Zuki, bisa nyusul kalo mau..

        *afwan, ya, pak, ga bisa bantu2 registrasi ulangnya…
        **yah, betapapun, flp ato bukan flp, dalam menulis, tetap “menggapai taqwa” mottonya… yup?

  6. jadi teringat pada seorang sahabat mbak. semester pertama belum berjilbab, kemudian hijrah di semester ketiga, sampai pada akhirnya 2 tahun setelah itu ia memutuskan untuk belajar pada salah satu asrama putri (dan dia pilig darush sholihat).. selepas dari itu, ia lanjutkan perdalam bahasa arab pada salah satu ma’had..

    Subhanallah…

    • iya, mbak… maha suci Allah. metamorfosa mereka, hikmah buat semua. semoga…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: