Oleh: sangprofesor | Maret 13, 2011

MAU JADI APA?

Artikel ini sudah nangkring di email saya sekiranya 2 pekanan. Tapi baru sempat saya baca hari ini. Dan… ya, seperti kata sahabat yang meneruskan artikel ini,

“Untuk renungan, terlepas setuju atau tidaknya kita…🙂 “

Yup! Let’s check this out! Email dari milis sebelah…

***

MAU JADI APA ?
Orang yang taat beragama atau ahli agama ?

Oleh : Kodiran Salim
Peneliti Independen Lintas Kitab Suci

Pikiran saya menerawang kelangit  Mengapa umat Islam Indonesia yang konon terbesar jumlahnya tetapi mempunyai penyakit yang akut seperti KEMUSRIKAN, PEMURTADAN, PENYESATAN, PENDANGKALAN AQIDAH DAN PERPECAHAN. Karena banyak orang-tua-tua dahulu menyekolahkan anak-anaknya bertujuan untuk menjadikan anak-anaknya menjadi AHLI AGAMA bukan sekedar menjadi orang yang taat beragama. Akibatnya di Indonesia banyak ahli agama yang satu sama lain berbeda pendapat. Padahal menjadi ahli agama belum tentu taat beragama. Sehingga sampai sekarang di Indonesia tidak ada yang namanya UNDANG-UNDANG SYARIAT, MAHKAMAH SYARIAT PENGADILAN SYARIAT, POLISI SYARIAT DAN INTEL SYARIAT.

Saya ingat pendapatnya ALMARHUM KH WAHID HASYIM pendiri NU tahun 1951

APA KATA ALMARHUM KH WAHID HASJIM PENDIRI NU
(Resensi)

Bagaimana nasibnya angkatan (generasi) yang akan datang ditinjau dari pendidikan Islam?. Apakah angkatan (generasi) yang akan datang makin jauh dari Islam?. Hal itu tidak perlu dan tidak boleh mengecilkan hati kita. Kita harus memandang kepada persoalan ini dengan cara yang teliti. 

Jika kita periksa betul-betul dengan otak yang dingin dan pikiran yang tenang, akan dapat kita ketahui, bahwa ada KEHILAFAN kecil didalam cara orang tua-tua dahulu memandang. 

Mereka dulu mencampur adukkan antara tujuan mendidik anak MENJADI ORANG YANG BERAGAMA dan orang yang BERPENGETAHUAN AGAMA..

Untuk menjadikan orang beragama, TIDAK PERLU orang itu diharuskan (ditentukan) mempunyai ilmu agama terlalu dalam dan luas. Sebaliknya orang yang berpengetahuan agama TIDAK MESTI menjadi orang yang beragama dengan baik.

Acapkali kita dapati seorang yang tidak berpengetahuan agama dengan luas dan dalam, beragama LEBIH SEMPURNA dari pada orang yang berpengetahuan agama dalam arti yang dalam dan luas.

Juga sering kita dapati, orang yang mengerti betul ilmu-ilmu agama dengan sedalam dalamnya, tetapi PERBUATANNYA tidak memberikan nama baik sebagai orang beragama.

Pada umumnya orang yang belajar agama, MENGHABISKAN WAKTU dan umurnya didalam pelajaran ilmu FIQIH. Dan ilmu fiqih itu hingga pada saat ini dituliskan orang dalambahasa Arab. Maka disamping mempelajari fiqih sebagai ilmu, juga mempelajari bahasa Arab itu sendiri dengan segala serba-serbinya, (NAHWU, SHARAF, BALAGHAH), bahkan mempelajari nahwunya itupun dengan cara yang dalam.

Orang lupa bahwa BAHASA (lughah) dan ilmu yang dikandung bahasa tadi BUKLANLAH merupakan suatu hal, tetapi dua hal yang dapat dipisahkan. Sebenarnya ilmu fiqih yang dikandung bahasa Arab itu, dapat juga dikandung (ditulis) didalam bahasa lain, bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau lain-lainnya.

Dari uraian diatas, terdapat kesimpulan, bahwa pada masa lalu orang telah SALAH memahami dua hal :

Pertama
Salah memahamkan antara orang yang TAAT BERAGAMA, dan orang yang BERPENGETAHUAN AGAMA.

Sebagaimana orang yang bersikap taat pada undang-undang negeri, tidak usah ia menjadi ahli hukum negeri. Juga orang yang taat beragama, tidak usah ia menjadi ahli agama.

Orang yang bersikap taat beragama, cukuplah mendengar, bahwa (Allah) mewajibkan ini dan melarang itu, dan dengan demikian ia lalu MENTAATI kewajiban tadi dan menghentikan cegahan tersebut.

Kedua
Salah memahami antara ILMU AGAMA yang merupakan isi dan BAHASA yang mengandung ilmu tadi.

Oleh karena kesalahan faham tersebut ia lalu MENDAHULUKAN belajar bahasa asing yang memuatnya, TIDAK MENDHULUKAN isinya.

Dan setelah WAKTU (usia) yang dipakai untuk mempelajari itu HABIS, serta dorongan untuk lekas terjun kedalam HIDUP BERUMAH TANGGA dan BEKERJA mencari nafkah telah tiba, maka TERHENTILAH kesempatannya. Akhirnya ia lalu menjadi orang TERAPUNG-APUNG setengah matang.

Karena SALAH memahami soal yang pertama tadi, maka orang-orang tua masa lalu mengambil sikap, bahwa pendidikan anak-anaknya harus ditujukan pada maksud untuk menjadikan mereka itu “AHLI-AHLI AGAMA”, dan akibatnya ialah KURANGNYA kesediaan anak-anak itu setelah menjadi dewasa, untuk ikut berlomba-lomba dalam perjuangan hidup yang bersipat modern ini. Lain dari pada itu, seandainya maksud orang tua-tua pada masa lalu untuk menjadikan anak-anaknya AHLI-AHLI AGAMA semuanya berhasil, akibatnya BELUM TENTU memuaskan. Sebab jikalau seluruh negeri penuh dengan ahli agama, siapakah yang akan mengisi cabang-cabang penghidupan lain yang beraneka warna dan yang luas itu ?

Karena SALAH memahami soal yang yang kedua, membawa akibat suatu gambaran yang mengelirukan. Sebenarnya ke ISLAMAN dan ke ARABAN adalah dua hal yang berpisahan, masing-masing berdiri sendiri. 

Akan tetapi karena salah memahamkan soal tersebut, lalu menimbulkan pendapat yang mencampur adukkan antara ke islaman dan ke Araban. Akibat kesalahan memahami perbedaan antara ke Islaman dan ke Araban itu, adalah suatu langkah yang tidak sewajarnya. 

SUATU PENDAPAT YANG PERLU DIPERBAIKI
.

Diringkas oleh:
Ulil Albab


Responses

  1. hmm…
    …berpikir…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: