Oleh: sangprofesor | Maret 27, 2011

Tentang Tanda Cinta yang Bernama Kecewa

“Kecewa adalah tanda cinta, bukan?” kata Pak Cah(panggilan akrab ust. Cahyadi Takariawan, red) dalam sebuah tulisannya.

“Tak perlu ada kata kecewa bagi makhluk bernama manusia” celetuk saya pada sebuah kesempatan dalam program radio ‘Bersama Menuju Kebaikan’ Jogja.

Yah, kali ini saya ingin sharing tentang satu kata itu… Satu kata yang pernah saya nyatakan bahwa ia tidak perlu ada dalam kamus kehidupan kita. Maksudnya bukan tidak benar2 ada…, namun cenderung saya abaikan segera keberadaannya mungkin, ya?

Bias. Tapi, yang jelas, saya pernah menangis dalam rapat seksi acara PASCAL 2008. Mereka, sahabat2 saya di seksi acara PASCAL 2008 pun bertanya-tanya, “Ada apa Risma?”, “Ada apa Mbak Risma?”. Waktu itu saya hanya menggeleng sambil tersenyum, seraya menjawab, “Engga apa-apa kok…” . Padahal saat itu saya tahu pasti, jawaban untuk pertanyaan mereka itu adalah, salah satunya, satu kata itu, “Kecewa”.

Pernah pula, suatu ketika, saat menerima penjelasan atas sebuah permintaan yang tertunda kepada seorang yang sangat berarti bagi saya. Tidak seperti ekspektasi. Namun saya hanya diam, tanpa mengeluh dihadapannya. Cuma ada senyuman saat itu. Mencoba mengerti. Namun mengapa saya sempat menangis kemudian? Saat di sunyi sepi tengah malam? Sendiri saja? Sesungguhnya, saya tahu kenapa saya meneteskan air mata, namun kata itu tak pernah keluar dari mulut saya sampai sekarang untuk seorang tercinta itu.

Ah, kenapa banyak adegan tangis mengangisnya, ya, kawan? Hehe, namanya juga wanita, suka maen perasaan, kan, ya? (ngeles dot com)

Baiklah… sekarang kita lanjutkan saja.

“Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan, semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.”

Lanjut Pak Cah dalam tulisannya yang lain.

“Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh organisasi, ormas, gerakan dakwah, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.

Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka pasti ada yang kecewa di antara mereka.

Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.

Mengapa beberapa orang parpol yang kecewa lalu membuat parpol baru lagi ? Karena boleh menurut Undang-undang. Coba kalau Undang-undang membolehkan membuat TNI baru, atau Polri baru, atau Mahkamah Agung baru, atau DPR baru, pasti sudah banyak orang membuat dari dulu. Banyak orang kecewa dengan TNI, banyak orang kecewa dengan Polri, banyak orang kecewa dengan Mahkamah Agung, banyak orang kecewa dengan DPR, banyak orang kecewa dengan Presiden dan Wakil Presiden, banyak orang kecewa dengan Menteri, banyak orang kecewa dengan Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RW atau Ketua RT.

Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera. Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling maju di seluruh dunia.

So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.

 

Maroji: tulisan ust. Cahyadi Takariawan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: