Oleh: sangprofesor | April 20, 2011

Analisa Konflik Bersenjata Israel-Palestina: Mengenang Hukum Humaniter Internasional

Negara-negara di dunia sepakat bahwa mereka tidak bisa menghindari perang sehingga lahir hukum humaniter Internasional yang mengatur tata cara perang. Namun, di Palestina hukum itu kini tinggal kenangan.

Korban Serangan Udara Zionis ke Jalur Gaza, April 2011

Dunia, punya banyak pengalaman tentang perang. Perang dalam rangka memperoleh kemerdekaan Indonesia misalnya, adalah bagian kecil dari sejarah yang mengajarkan masyarakat dunia bahwa perang, walaupun kejam, tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu instrumen politik internasional. Karenanya, untuk meminimalisasi dampak perang yang mengerikan, lahirlah hukum humaniter internasional alias hukum perikemanusiaan internasional atau disebut juga hukum perang. Konvensi Jenewa 1949, konvensi Den Haag 1899 dan 1907, inilah ‘kitab suci’ hukum humaniter internsional. Betapa tidak, konvensi Jenewa memuat aturan tentang perlindungan korban perang.

Awalnya, dalam konvensi Jenewa I hanya diatur perlindungan terhadap tentara yang terlibat dalam perang di darat. Namun, kemudian dilakukan perluasan meliputi perlindungan bagi tentara perang dilaut melalui konvensi Jenewa II. Pada konvensi Jenewa III, melihat kenyataan adanya tindak tidak manusiawi terhadap tawanan perang, ditambahkan hukum yang melindungi mereka. Dalam konvensi Jenewa IV dengan kesadaran terancamnya keselamatan pihak sipil di tengah perang, disahkan pula aturan perlindungan bagi mereka. Tidak hanya mencakup konflik antar negara, tahun 1977 dua protokol tambahan disahkan. Protokol tambahan I mangatur perlindungan atas korban konflik bersenjata dalam rangka perjuangan menentukan nasib melawan kolonialisme, pendudukan asing, dan rezim pemerintahan yang rasialis. Sementara protokol tambahan II melindungi korban konflik internal dalam suatu negara. Ketika salah satu pihak mendominasi negara itu secara geografis. Sedangkan konvensi Den Haag membatasi metode dan alat-alat yang digunakan dalam perang.

Nah, jika kita tinjau,  berdasarkan hukum internasional tersebut, kita dapat menganalisa konflik bersenjata Israel-Palestina:

Bahwa israel melakukan pelanggaran berat terhadap prinsip dasar hukum humaniter internasional yang mengatur tata cara perang. Lebih detail lagi, Israel mencederai konvensi Jenewa IV tentang perlindungan terhadap pihak sipil dalam perang, sekaligus merendahkan lima prinsip dasar dalam hukum perang.

Prinsip pertama, harus ada pembedaan(distinction) combatan(orang yang terlibat langsung dalam perang, misalnya tentara bersenjata masing-masing pihak) dengan non-combatan(misalnya penduduk sipil) dalam konflik bersenjata. Dalam hal ini Israel melanggar pasal 48 protokol tambahan 1 tahun 1977 common article No.3 konvensi Jenewa, tentang pembedaan penduduk sipil dengan Hamas.

Kedua, prinsip kebutuhan militer(military necessity). Dalam pasal 57 protokol tambahan 1 konvensi Jenewa pun dijelaskan bahwa obyek yang dapat diserang dalam suatu konflik internasional adalah obyek militer dan combatan. Jatuhnya korban sipil dan sasaran serangan terhap obyek sipil, termasuk berbagai infrastruktur dan obyek vital lainnya harus dihindari. Namun, kenyataannya, Israel turut menyerang berbagai obyek sipil termasuk sekolah, rumah sakit, rumah penduduk, jalan, pipa air, dan juga termasuk jaringan listrik. Terputusnya jaringan listrik di Palestina mengancam kelangsungan hidup bayi-bayi di sana karena risiko kedinginan(hypothermia)

Ketiga, israel juga melanggar prinsip kemanusiaan(humanity). Buktinya, terjadi penghambatan bantuan kemanusiaan seperti diungkapkan dr. H. M. Bambang Edi S, M. Kes, So. A ketua Bulan Sabit Merah Indonesia(BSMI) cabang Yogyakarta. “Terdapat hambatan yang cukup signifikan bagi upaya pertolongan  kemanusiaan di perbatasan palestina dengan mesir.” Ungkapnya. Padahal upaya pertolongan pertama kepada korban yang terluka harus segera dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya korban sipil yang berjatuhan(unnecessary victim).

Prinsip keempat adalah pembatasan(limitation). Artinya, pihak konflik harus dapat membatasi risiko kerugian yang ditimbulkan, baik kerugian materi maupun non materi. Terkait prinsip ini,Israel melanggar pasal 35 protokol tambahan 1 konvensi Jenewa.

Selanjutnya, prinsip kelima adalah proporsionalitas(proportionality) dalam proses maupun hasil akhir sebuah konflik. Serangan Israel terhadap Palestina dapat dikatakan sangat tidak proporsional(unequal distribution of capabilities) dalam hal persenjataan. Buktinya, serangan roket oleh militant Hamas tidak sebanding dibalas secara berlebihan olehIsrael dengan 30 misil jet tempur.

Demikianlah, ruang lingkup konflik Israel-Palestina tidak hanya mencakup masalah ideologis ataupun agama, tapi telah menjadi isu kemanusiaan. Ironi memang, negara-negara di dunia sepakat bahwa mereka tidak bisa menghindari perang sehingga lahir hukum humaniter Internasional yang mengatur tata cara perang. Namun, di Palestina hukum itu kini tinggal kenangan.

***

 *Disarikan dari beberapa artikel bulletin Cendikia edisi januari 2009.
   Created & Published by JunSai Dept. LSiS UGM 2009
  **picture taken from www.knrp.or.id


Responses

  1. Actually, what can we do to end -or to make it a little bit safe for children and women especially- this never ending war ?! i really want to see people in Palestine live in peace and all sectors of life back to normal.

    Ya Allah.. Please lead this people to find the right way, live in a peaceful life😥

    *save Palestine*

  2. ya, you know, Israeli military aggression is concrete evidence that they are the real terr**ist. They are the ones most respects human rights and human life. Nevertheless, what can we do for Palestine? *good question*

    people said, there are several ways that we can do:
    1. Pray for them in every prayer that we do. Because, of couse, we believe that prayer could become weapons for the Palestinian people…
    2. Send reinforcements, or give donations in cash, drugs and other. *banyak sarananya kok, Gy, kalo kita mau n mampu.. semampu kita ‘kan Gy.. eg u can click http://www.knrp.or.id for more information*
    3. Avoiding as much as possible from the Jewish-made goods.. *have u ever heard this one?*
    4. Add to our knowledge, especially in terms ghazwul fikri (the war of ideas). *kita sepakat bahwa kita harus paham ama hal2 terkait agama kita sdri, ‘kan, Gy?*
    5. Sending troops jihad or a competent medical team. *space for our leaders maybe?*

    then… ah, so many ways i think, little one, u can write about palestine?🙂

    wallahua’lam

    ya, May Allah ta’ala give victory to the Palestinian people.. and destroy the enemies of Allah… amin

    *save palestine*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: