Oleh: sangprofesor | Juni 23, 2011

di Thaif

Ketika dakwah Rasulullah di kota Makkah tak dihiraukan banyak orang, beliau mengalihkan perhatiannya ke kota Thaif. Beliau berharap akan mendapat sambutan di kota itu, atau setidaknya perlindungan setelah dua orang yang setia melindungi beliau yang telah tiada; Khadijah dan Abu Thalib. Namun nyatanya tidak demikian. Kedatangan beliau yang telah diketahui oleh pimpinan Quraisy sebelum misi tersampaikan, justru mendapatkan rintangan yang tak terkirakan.

Sepuluh hari Rasulullah saw berada di sana. Tapi kaum Tsaqif melempari beliau hingga kakinya terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membelanya dan melindunginya, sehingga kepalanya juga terluka karena lemparan batu. Akhirnya, beliau berlindung di sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Di situlah beliau berdoa,

“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tidak aku hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu.”

Doa dan rintihan beliau didengar malaikat penjaga gunung. Malaikat itupun berseru, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung, dan Rabb-Mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Namun beliau hanya menjawab, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.”

Beliau ditolak dengan amat kasar, tapi dijawabnya dengan ketulusan doa.


Responses

  1. 😥
    Jaman sekarang, hal ini udah jarang…..

  2. o really?

    mungkin karna mereka, orang-orang yang dizhalimi itu, berdoanya dalam hati, Sop… dalam sunyi sepi sendiri tanpa teman di sisi…
    *ga ada yang tau selain dia ama Allah, jadi doanya lebih mustajab begitu?
    **dan lanjutan kisah ini juga ‘kan akhirnya kaum tsaqif benar2 darinya lahir generasi2 yang taat pada nash2 ilahi, iya ‘kan, Sop… doa nabi dikabulkan… ^^ Allahuakbar…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: