Oleh: sangprofesor | Oktober 9, 2011

Hifzhul Quran (part one)

HIFZHUL QUR’AN

Oleh : Ust. Suherman

I. PENGERTIAN AL HIFZH (MENGHAFAL)

Secara bahasa/etimologi Al Hifzh bermakna selalu ingat dan sedikit lupa. Hafizh (Penghafal) adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sedereta kaum yang menghafal. Al Hifzh juga bermakna memelihara, menjaga, menahan diri, ataupun terangkat. Dalam kaitan menghafal Al Qur’an, maka harus memperhatikan 3 unsur pokok, yaitu :

  1. Menghayati bentuk-bentuk visual sehingga bisa diingat kembali meski tanpa melihat mushaf.
  2. Membacanya secara rutin ayat-ayat yang dihafalkannya.
  3. Mengingat-ingat ayat-ayat yang dihafalkannya.

Secara Istilah/terminologi, pengertian Al Hifzh sebenarnya tidak berbeda dengan pengertian secara bahasa/etimologi, tetapi ada dua hal yang secara prinsip membedakan seorang Penghafal Al Qur’an dengan penghafal hadits, syair, hikmah, tamsil ataupun lainnya, yaitu :

  1. Penghafal Al Qur’an dituntut untuk menghafal secara keseluruhan baik hafalan maupun ketelitiannya. Karena itu tidaklah dikatakan Al Hafizh  orang yang menghafal setengahnya atau dua pertiganya atau kurang sedikit dari 30 Juz dan tidak menyempurnakannya. Dan hendaklah hafalannya dalam keadaan cermat dan teliti.
  2. Menekuni, merutinkan dan mencurahkan segenap tenaga untuk melindungi hafalannya dari kelupaan.

II. KILAS SEJARAH PROSES PENJAGAAN AL QURAN

Salah satu keistimewaan Kitab suci Al Quran diantaranya adalah mudah dihafal. Hal ini terjadi sejak zaman Nabi saw masih hidup bahkan sampai sekarang dan insya Allah akan terus berlangsung sebelum hari kiamat tiba. Hafalan Al Qur’an merupakan salah satu tolok ukur keimanan dan keilmuan seorang mu’min. Allah swt berfirman dalam QS. Al Ankabuut : 49

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim”

Rasulullah saw adalah seorang Hafizh yang pertama kali dalam sejarah ummat ini. Beliau saw adalah imam para hufazh, penghulu para ahli Qiro’ah. Kemudian para shahabat ra banyak yang langsung bertalaqqi kepada Nabi saw, diantaranya :

  1. Utsman bin Affan ra
  2. Ali bin Abi Thalib ra
  3. Ubay bin Ka’ab ra
  4. Abdullah bin Mas’ud ra
  5. Zaid bin Tsabit bin Dhahak ra
  6. Abu Musa Al Asy’ari ra
  7. Abu Darda ra

Menurut Imam Adz Dzahabi, merekalah para hufazh semasa Rasul saw masih hidup. Kepada merekalah sanad-sanad Imam Qira’ah sampai ke tangan kita. Begitu pula banyak para shahabiat yang juga penghafal Qur’an, salah satunya adalah  Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harits yang digelari Nabi saw. dengan Asy Syahidah. Di kalangan Tabi’in diantaranya Abu Al Aliyah Ar Rahayi Rafi Ibnu Mahran, Abu Raja Al ‘Atharidi Imran bin Mulhan Al Bashari, Hasan bin Abu Hasan Yasar serta masih banyak lagi lainnya.

Dengan  pola yang mutawatir seperti inilah Al Qur’an diwariskan dari generasi ke generasi. Walau zaman berganti, namun proses pewarisan seperti ini tetap terpelihara, bi idznillah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: