Oleh: sangprofesor | Juni 11, 2012

Kisah Awan Cinta

Di kalangan bani Israil; ada seorang pendosa; khazanah kemaksiatannya sebilangan pasir di gurun, melimpah bertimbun-timbun. Tetapi hidayah Allah menyapa; dia disergap takut oleh dosa-dosa. Semua khilaf menghantui kala sepi, mencekam malu saat ramai.

Maka dengan cemas hati; ke negeri jauh dia melarikan diri, menuju tanah baru, menutup pintu rayuan dosa dan keliru dari masa lalu. Dia arungi padang pasir yang menyengatkan terik; batu dan kerikil terasa menyala, dan matahari sama sekali tak bercadarkan  awan. Dalam langkah-langkah yang menyiksa tubuh dan memayahkan  jiwa itu; dia berjumpa kawan perjalanan. masyaaLlah; beliau seorang Nabi.

Menghadapi cuaca begitu beratnya; sang Nabi berkata pada si pendosa;

“Mari berdoa, agar Allah payungkan awan di perjalanan kita!”

Memerah muka sang pendosa; takut-takut dia berkata,

“Demi Allah, aku malu meminta hal itu, aku amat sungkan menghiba padaNya.”

Nabi Bani Israil itu tersenyum;

“Baiklah aku yang berdoa. Kau cukup aminkan saja!” Tak lama, awanpun menaungkan bayang teduhnya.

Lalu tibalah di persimpangan; beda tujuan haruskan mereka berpisah jalan. Setelah salam terkata, masing-masing menempuh arahnya. Alangkah terkejut Nabi itu ketika mendapati awan yang menaungi selama perjalanan mereka berdua kini tak lagi bersama dirinya. Yang menakjubkan; ternyata awan tersebut tetap menaungi lelaki yang tadi bersamanya. Bergegas sang Nabi berbalik menghampiri.

“Saudara! Tunggu! Kau bilang tadi tak punya keutamaan apapun; bahkan berdoapun merasa tak layak; tapi awan itu malah mengikutimu!”

“Katakan kepadaku”, desaknya, “Apa yang menjadi rahasia kemuliaanmu di sisi Allah sehingga justru ucapan Aamiin-mu yang dikabulkan!”

Lelaki itu kebingungan. “Apa? Aku tak tahu  duhai Nabi Allah.. Aku tak tahu…  Aku hanya pendosa nista yang lari dari masa lalu…”

“…aku ahli maksiat yang hina& kini begitu haus akan ampunan Rabbku!”, ujarnya.

“itulah dia! Itulah dia!”, sahut Sang Nabi.

Kemuliaan sang penaubat dalam perjalanan memperbaiki diri; telah mendahului keutamaan seorang Nabi untuk beroleh naunganNya.

***

Langit bulan Juni…

Saya kira, tidak sedikit orang yang memperhatikannya. Di kalangan penyair misalnya, langit bulan Juni-atau apapun yg terkait dengannya- mungkin menjadi inspirasi tersendiri, akan membuatkannya menumpahkan sejuta ide bikin puisi mungkin? Mungkin. Dan kumpulan sajak Hujan Bulan Juni-nya Pak Sapardi Djoko Damono adalah contohnya. Tapi terus terang, saya sedang tidak ingin membahas puisi. Hanya ingin bercerita, kalau langit bulan Juni ini memang unik. Terutama karena sering hadirnya cadar awan yang menutup birunya, yang melapisi kelam malamnya.

Dan seketika, apalagi saat tak jemu menatap tumpukan awan di atas sana, saya teringat lagi kisah itu, sebuah kisah yang diceritakan dengan indah oleh ustaz Salim A. Fillah di akhir bulan Mei lalu, saya menyebutnya kisah awan cinta… Ya, kisahnya sudah saya lampirkan di mula. 

Maka itu mungkin tentang taubat, bening jiwa, doa dan ijabahnya. Bahkan lebih… Karena setiap muslim memang berhak mengambilnya; hikmah, ibrah, pelajaran. Iya ‘kan!?

Lalu tentang taujih yg berikut ini, masih dari ustadzna Salim A.Fillah-semoga Allah senantiasa menjaga ustdaz- yang saya tulis ulang… it’s Note To My Self.

***

Sesak jiwa dan sempit dada terinsyaf dosa-dosa; meleleh air mata sebab takut padaNya; ialah harga bahagia di hidup berikutnya.

Semoga kita bukan hamba yang karena banyak minta dan merasa belum terkarunia; limpahan nikmat tak tersyukuri & dosa tak tertaubati.

Semoga kita adalah hamba yang jika berdoa; bukan hanya isi pinta yang menjadi hasrat utama, tapi bermesra denganNya-lah hajat mulia.

Ujar hasan al bashri, “hukuman atas dosa bukan terputusnya rizqi, melainkan terputusnya munajat mesra dengan ilahi”; mari benahi.

Maka beruntung yang dosanya mengantar pada taubat nasuha; yang indahnya tak membuat berbangga, hanya harap cemas akan ridhaNya.

Kekayaan terbesar pagi ini adalah dosa yang diampuni, ibadah yang diridhai, nikmat yg tersyukuri, dan musibah  yang tersabari.

Adalah rahmatNya; Allah jadikan rasa kaya dan bahagia itu dalam dada; ridha pada pembagian dan ketetapanNya; dunia ringankanlah saja.

Pagi indah dengan pesan ‘Utsman; bergalau dalam soal dunia jadi kegelapan dalam dada. Gelisah akan akhirat ialah cahaya terangi jiwa.

Selamat memperbaharui taubat & niat shalih(in+at); moga Allah menolong hingga tergapai ikhlasnya maksud dan ihsannya upaya menjemput.

*** 

~Di Sebuah pagi, Rajab 1433 H~

*sumber kisah dan taujih, akun ustadz @salimafillah (twitter)
**Note to My Self–seperti kata ustadz Salim; hal penting yang lebih patut ditelunjukkan pada diri sendiri; disebar-bagi semoga mengilhami 🙂


Responses

  1. prof..maaf, alangkah indahnya jika kisah diatas juga disampaikan sanadnya..jadi bukan hanya katanya atau ceritanya ust. salim a. fillah..kan beliau belum lahir jaman itu..

  2. nah, ada kah yg punya akun twitter? sahabat Hungo punya?

    jika iya, mohon berkenan lah menanyakannya langsung kpda beliau… akunnya, http://www.twitter.com/salimafillah

    barakallahu fiek ^_^

  3. no offense, prof..
    jadi benerkan komen saya, cuma katanya ustad atau ceritanya ustad, hehehe.
    ujung2nya suruh nanya sendiri ke ustad..ya gapapa..insyaalloh nanti saya nanya ke beliau

    oiya, ijin juga prof..nanti saya kasih link ust.salim ke tulisan ini..itung2 promo juga lho..follower ustad salim a. fillah kan diatas 60rb followers,hehehe

  4. diriwayatkan dari Bakr bin Abdullah Al Muzani… ^_^

    kisah serupa yang pernah saya baca menyebutkan demikian,
    *dari pengantar di bukunya ust. Sholihkin Abu ‘Izzudin,
    “Dasyatnya Do’a, Coy!!”*

    hum, yg ini kan versinya ust. Salim A. Fillah,
    makanya lebih baik kalau ditanyakan langsung ke sumbernya,
    siapa tau jg rawinya beda jalur?? he,
    *tapi kayanya ini hanya soal gaya bercerita aja deh!?*
    wallahua’lam

    sok lah, ditanyakeun sahaja ke ustadz kita…

    mabruk, Hungo ^_^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: