Oleh: sangprofesor | Juni 17, 2012

Menangis Karena Shalat

Ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf. Isam memiliki akidah yang mantap. Akhlak karimah merupakan aksesorinya. Dalam kesehariannya, dia bersikap zuhud, wara’ dan senantiasa berusaha menunaikan shalat sekhusyu mungkin.

Walaupun begitu, hati isam tidak pernah terlepas dari perasaan khawatir. Dia khawatir akhlak dan ibadahnya itu tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah. Oleh karena itu, Isam ingin mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya. Tujuannya sudah tentu ingin memperbaiki kualitas akhlak dan ibadahnya. Untuk itu, Isam selalu bertanya kepada orang yang dalam pandangannya lebih unggul, baik dalam hal akidah, akhlak, maupun ibadah.

Suatu hari, Isam menghadiri sebuah majelis taklim yang diisi oleh Hatim al Asam. Kesempatan ini senantiasa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kali ini, Isam bertanya tentang kekhusyuan shalat.

“Kalau boleh tahu, bagaimana anda mendirikan shalat?”

“Ketika waktu shalat tiba, saya berwudhu, baik lahir maupun batin.”

“Apa maksud Syaikh, berwudhu batin?”

“Berwudhu lahir itu sudah biasa. Setiap Muslim tahu cara membasuh anggota badan saat wudhu. Wudhu batin artinya membasuh diri dengan tujuh perkara, yaitu bertobat, menyesali dosa, tidak tergila-gila dengan dunia, menepis keinginan untuk mendapatkan pujian manusia, menjauhi hidup bermegah-megahan, meninggalkan sifat khianat, dan menanggalkan sifat dengki.”

“Setelah itu, apa yang Syaikh lakukan?”

“Saya berangkat ke mesjid, kemudian menghadap kiblat. Saya berdiri dengan penuh kewaspadaan. Saya membayangkan Allah ada di hadapan saya, surga di sebelah kanan, neraka di sebelah kiri, dan malaikat maut di belakang. Saya juga membayangan seolah-olah berdiri di atas Shirat. Hal yang penting, saya selalu menganggap setiap kali shalat sebagai shalat terakhir. Kemudian, saya membaca takbiratul ihram dengan sebaik-baiknya. Setiap bacaan shalat, saya pahami dengan baik. Saat ruku’ dan sujud, saya bersikap tawadhu. Memasuki tasyahud, hati saya penuh dengan pengharapan. terakhir, saya mengucapkan salam dengan tulus. Selama 30 tahun, saya mendirikan shalat seperti itu.”

Setelah mendengar pemaparan tersebut, Isam menangis sejadi-jadinya. Ternyata, shalat yang dilakukan selama ini belum ada apa-apanya dibandingkan shalat Syaikh Hatim. Besok dan seterusnya, saya harus shalat lebih baik lagi! Gumamnya dalam hati.

♥♥♥

oleh Pak Mohammad Zaka Al Farisi,
Like Father Like Son.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: