Oleh: sangprofesor | Oktober 17, 2012

Sependar Syukur Putri

courtesy: Yahoo India News

“Okaasan… u must be really tired from work.
Today i went to the hospital. Don’t worry about the wound on my chin.
The scar will be gone without a trace. Don’t worry. That’s it. Good night.”

[Aya Ikeuchi, 1 Litre of Tears]

~***~

Sudah ia rencanakan untuk maksimal di laboratorium selama seminggu ini, karena akhir pekan ini ia sudah harus terbang, meninggalkan lovely analytical chemistry laboratory dan riset master thesis yang sedang dijalaninya.

Menuju kampung halaman… Ada acara penting yang pastinya mengharuskan ia kembali ke tanah kelahiran itu. Ya. Dua pekan saja memang. Tetapi tentu, dua pekan itu adalah waktu yang sudah terlampau cukup untuk melakukan banyak hal selama berada di laboratorium. Belum lagi kelas seminar tesis yang juga harus ia lewatkan, absen sebanyak dua kali pertemuan.

Benar juga kata seorang teman, “Life is choice”, katanya. Mungkin ada yang harus dikorbankan dalam pilihan2 kehidupan…, mungkin.

***

Senin ceria…

Kemarin, pesanan chamber untuk studi transport yang akan ia kerjakan sudah tiba di laboratorium. Tinggal eksekusi lanjutan pada hari esok: “Selasa Membara” ujarnya. Namun demikian, man proposes God disposes.

Qadarullah, selasa pagi ini staminanya menurun, sepertinya ini gejala thypoid yang mau kambuh? Semoga bukan, doanya. Walau firasatnya sudah mengatakan itu semua memang menyangkut makanan beberapa waktu ini… well, just take the ‘ibrah’ out. Maka Selasa membara menjelma sepenuh asa. “Semoga lekas pulih ya, Putri” gumamnya sendiri. Lalu yang ada hanya syukur… Mensyukuri nikmat sakit ini. Bukankah sakit itu juga nikmat-Nya?

Aisyah radhiyallahuanha berkata, aku telah mendengar rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suatu apa pun yang menimpa seorang mukmin, walau duri sekalipun kecuali Allah menuliskannya sebagai kebaikan atau dihapusnya kesalahannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Dari Abi Said dan Abu Hurairah radhiyallahuanhum bahwa nabi SAW bersabda: “Tidak menimpa seorang muslim dari capai, tidak pula suatu sakit, tidak pula gelisah, tidak pula sedih, tidak pula susah, sampai pada duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan karenanya kesalahan-kesalahannya.” (H.R Bukhari)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa rasulullah saw bersabda: “Tidaklah dari seorang muslim yang tertimpa penyakit, sakit, atau yang sealirannya, kecuali Allah SWT menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya pohon akan daun-daunnya.” (H.R Bukhari)

Uhum… “La ba’sa, thahurun insyaaLlah” senyumnya.
Tergugur dosa dengan sakit ini juga nikmat-Nya. Not only sabar, but also syukur. Sabar dan syukur, dua hal yang tak terlepas.

Sambil berbaring, ia meresapi kembali perkataan Khalifah Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz tentang nikmat syukur yang pernah dikutip oleh ustadz Salim A.Fillah via twitternya sang ustadz. Dan Selasa ini memang sepenuh asa…, keep focus on journey, take a rest for a while, maybe… and getting closer to Allah, as always.

***

“Kemampuan mensyukuri adalah nikmat yang lebih agung daripada nikmat yang disyukuri itu sendiri.”

–Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz—

~***~

bed rest,  
09252012-10172012 revised


Responses

  1. Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman…

  2. Cepat sembuh profesor!
    Bed restnya dari 0925 pe 1017? Lama juga..

  3. @ashif1st dan Pak Eki Rezki
    amin… jazaakumullah khairan katsir 🙂

    @Pak Eki
    bukan, Pak. itu waktu tulisnya pada tanggal sekian, mengalami revisi pada tanggal sekian, qadarullah tempat kreatifnya memang sama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: