Oleh: sangprofesor | Oktober 27, 2012

Tanah Gersang

Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,
setiap orang adalah guru bagi kita.

Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang
jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini
hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka
tetaplah guru-guru bagi kita. Bukan karena mereka orang-orang
yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang
belajar untuk menjadi bijaksana.

Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang
belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi
embun bagi paginya, awan teduh bagi siangnya, dan
rembulah yang menghias malamnya.

Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling
gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih
cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih
tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus.
Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan
menjadi murid yang bijaksana.

Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena
khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti
gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan
subur, sejuk menghijau berwujud hutan.

Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut
untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut
menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya.
Demi tercipta butir-butir tanah. Demi tersedianya unsur
hara agar pepohonan berbuah.

***

~**Salim A.Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah**~


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: