Oleh: sangprofesor | Desember 27, 2012

Ibunda, antara Allah dan kita

keluarga-bapak-ibu-anak

courtesy: dakwatuna.com

Mu’awiyah bin jahimah mendatangi Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku hendak berperang, aku minta pendapat engkau.” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau mempunyai ibu?” Jawabnya, “Ya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (H.R Ath Thabrani)

***

Tanyalah ibu kita, ingin balasan kebaikan macam apa dari anak-anaknya? Niscaya ibu tak bisa menjawabnya. Tak pernah terbetik dalam pikiran seorang ibu, menagih bayaran yang layak atas setiap pengorbanannya mengurus anak-anaknya. Karenanya, kita harus lebih mawas diri untuk membalas jasa-jasanya.

Menurut Ustadz Syarifudin Mustafa hasan, dosen STIU DI Al Hikmah Jakarta dan STIQ Isy Karimah Solo, Jawa Tengah, hadits di atas menegaskan bahwa berbakti kepada ibu memiliki keutamaan yang besar mengalahkan pahala jihad fi sabilillah.

Murka dan Ridha Allah Seiring Hati Orangtua

Sering kita dengar durhaka kepada orangtua, terutama ibu, akan mendatangkan murka Allah yang langsung terasa di dunia. Hikmah dari sabda Rasulullah saw “Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”, menurut Syarifudin adalah keridhaan dan murka Allah terletak pada ridha dan murkanya orangtua. Bahkan untuk orangtua yang tak seakidah atau sering melakukan kekhilafan, kita tetap harus memuliakannya.

Kisah al-Qamah patut menjadi renungan. Ia yang sangat berbakti kepada orangtua, rajin beribadah dan melakukan amal shalih, namun karena kesalahan kecil yang membuat ibunya tidak rela, al-Qamah mengalami sakaratul maut yang memilukan di akhir hidupnya. Padahal yang dilakukan al-Qamah adalah ibadah sunah. Ketika al-Qamah dipanggil 3 kali dan tidak menjawab, ibunya kesal dan marah. Akibatnya turun kemarahan Allah di penghujung ayatnya. Padahal, Rasulullah saw telah bersabda, “Wajib memenuhi panggilan ibu daripada shalat sunah. “ (H.R Ibnu Abi Syaibah)

Saat Tepat Balas Jasa Ibu

Bukan hanya saat orangtua masih hidup, ketika mereka wafat, kita tetap harus berbakti. Sebagaimana Rasulullah saw tentang berbakti pada orangtua yang telah wafat, “Yakni dengan mengirim doa (mendoakan) dan memohonkan ampunan. Menepati janji dan nazar yang pernah diikrarkan orangtua, memelihara hubungan silaturahim serta memuliakan kawan dan kerabat orangtuamu,” (HR Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban).

Bagaimana cara berbakti yang paling tepat saat orang tua masih hidup? “Dalam Al Quran surat Al Isra ayat 23-24 dan surat Luqman ayat 14-15, Allah jelas memerintahkan kewajiban anak terhadap orangtua, terutama ibunya.” Ungkap Syarifudin. Intisari dari perintah Allah tersebut adalah:

  1. Berbuat baik kepada orangtua dengan sebaik-baiknya.
  2. Merawat dan mengurus orangtua bila sudah usia lanjut.
  3. Berperilaku santun dan lembut serta mengeluarkan lisan yang mulia.
  4. Merendahkan diri dengan penuh kasih sayang.
  5. Senantiasa mendoakan mereka.

Kelima hal tersebut terbukti efektif membahagiakan orangtua, khususnya ibu, melebihi hadiah-hadiah mahal sekalipun. Tapi, benang merah cinta seorang ibu kepada anaknya akan tetap permanen, ada atau tidaknya balasan dari si anak. Itulah mengapa pengorbanan dari cinta yang tidak berpamrih tak bisa tergantikan dengan apa pun.

Dikisahkan Rasulullah saw bertemu dengan seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet saat sedang thawaf. Selesai thawaf Rasulullah saw bertanya, “Kenapa pundakmu itu?” jawab anak muda itu, “Ya Rasulullah, saya dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur dan sangat saya cintai. Saya tak pernah melepasnya, kecuali saat buang hajat, shalat, atau istirahat, sisanya saya selalu menggendongnya.” Kemudian anak muda itu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orangtua?” Nabi saw sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu beliau bersabda, “Sungguh Allah swt ridha kepadamu, kamu anak yang shaleh, anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbayarkan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.” (HR Thabrani).

Kisah kakak-adik berebut memuliakan ibunya yang berujung pada meja hijau bisa jadi pelajaran pula buat kita. Hizan Al Fuhaidi harus melawan sang adik untuk memperebutkan hak asuh bagi sang ibu. Di pengadilan Qasim, ia berdiri kecewa dengan air mata bercucuran hingga membasahi janggutnya ketika akhirnya dikalahkan adik kandungnya oleh sang hakim dalam hak pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta. Seumur hidup sang ibu tinggal bersamanya di desa. Dan tatkala sang ibu menua dan keriput, datanglah si adik yang tinggal di kota mengajak ibunya tinggal bersamanya, dengan alasan fasilitas kesehatan di kota lebih lengkap. Hizan Al Fuhaidi menentangnya. Ia merasa masih mampu merawat sang ibu. Jadilah kedua bersaudara berperkara di pengadilan. Ketika akhirnya sang ibu ditanya oleh hakim siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya? Sang ibu menjawab sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku” kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku.”

Berdasarkan kemashlahatan bagis ang ibu, hakim akhirnya memutuskan sang ibu dirawat oleh sang adik, sehingga Hizan sangat terpukul. Sangat jarang hal seperti itu kita temukan dewasa ini.

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, ibu mempunyai hak dua pertiga kebaikan, sementara ayah sepertiganya. Lalu mana yang harus kita dahulukan, pendapat ayah atau ibu ketika dalam musyawarah terjadi perbedaan pendapat? Syarifudin menjelaskan, “Yang didahulukan adalah pendapat yang lebih benar dan mendekati ketaqwaan dan kebaikan. Jika tidak jelas mana pendapat yang benar, maka bila berkaitan dengan tatacara bersikap baik, perintah ibu lebih diutamakan, sebab ibu berhak mendapatkan perlakuan baik. Jika menyangkut persoalan umum yang ayah lebih tahu, lebih luas, lebih berpengalaman daripada ibu, maka pendapat ayah didahulukan.”

Karenanya, terkait dengan perayaan hari ibu, Syarifudin mengingatkan agar berbakti kepada ibu bukan hanya sehari. Dan semangat memuliakan ibu harus berlandaskan pada keimanan kepada Allah swt, serta jadi sarana evaluasi untuk menambah kualitas dalam membahagiakan ibu di kesehariannya.

***

Ya, everyday is mother’s day…🙂

*article source: Majalah Ummi edisi Desember 2012


Responses

  1. Sesungguhnya tanggungjawab anak-anak terhadap kedua orang tua bukanlah hanya dilakukan semasa hayat mereka masih ada sahaja tetapi berterusan walaupun mereka telah meninggal dunia. Anak-anak masih boleh menyumbangkan bakti mereka dengan pelbagai amalan seperti memperbanyakkan istighfar dan berdoa untuk mereka, bersedekah, membayar segala hutang piutang serta melaksanakan semua wasiat yang mereka tinggalkan selagi wasiat tersebut tidak bercanggah dengan hukum syarak. Selain itu menghubungkan silaturahim dengan teman-teman dan kaum kerabat serta orang-orang kesayangan ibu bapa juga merupakan salah satu cara berbakti yang boleh kita lakukan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: