Oleh: sangprofesor | Januari 9, 2013

Aisyah RA Tentang Rasulullah

Berkata Ibnu Umar kepada Aisyah,

“Izinkan kami di sini sejenak, dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Nabi.”

Terisak menahan tangis, Aisyah menjawabnya lirih,

“…semua perilakunya menakjubkan bagiku……”

 

Kaana kullu amrihi ‘ajaba...

*)Penggalan cakap dinukil oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan surah Ali Imran
**)Dipetik dari tulisan Mohammad Fauzil Adhim, Agar Cinta Bersemi Indah.


Responses

  1. Saya terfikir dan merenung seketika pagi tadi. Akal menerawang jauh seolah-olah mengamati realiti itu. Ya. Sebenarnya soal jodoh, perkahwinan dan pembentukan keluarga itu sangat-sangat dekat dengan kita semua. Semua orang punyai impian, hasrat dan harapan untuk melalui fasa-fasa itu bukan?

    • saya terfikir dan merenung seketika (tidak hanya) pagi ini…

      mitsaqan ghaliza…?
      dan sekokoh perjanjian,
      masih sekokoh itu pula topik ini berat saya rasa sampai sekarang… “^^a

      iya sahabat…,
      bagi seorang mukmin/ah, nikah itu tujuannya mulia ‘kan?
      ada Ridho Allah disana(QS 98:5). Ia juga bukti taat, karena zina adalah dosa besar(QS 17:32) dan sekali berzina membakar 40 tahun amal ibadah. *demikian Rasul mengecam para pezina, sebaliknya dengan nikah telah meraih “nishfaddiin” separuh nilai kemuliaan agama, subhanaLlah.*
      Pernikahan juga bukti cinta kita pada Rasulullah, sabda rasul, “Nikah sunnahku, siapa yang membencinya bukan umatku”, *tentu berbeda yang tidak mau nikah dengan yang belum menikah*.
      Pernikahan juga untuk mewujudkan hasrat cinta biologis-psikologis yang diberkahi Allah, meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup sakinah mawaddah wa rahmah (QS 30:21), memperbanyak umat Rasulullah, serta mempersiapkan keturunan sebagai regenerasi dakwah.

      tujuan2 inilah, sahabatku…, yang membuat kita “NORMAL” jika tiap2 kita punya impian untuk disampaikan pada fase itu…
      *fase-fasenya jelas: perbaikan individu–> keluarga–> masyarakat–> perbaikan hukum –> daulah –> khilafah–> guru bagi dunia. insyaaLlah🙂

      allahua’lam.
      *ohya, ilmu yang satu ini belum teruji, that’s why i said ‘ini topik berat’, he “^^a

      uhum…,
      semoga Allah membuka jalan terbaik bagi kita untuk meraih pernikahan yang penuh dengan barakah-Nya, ya…

      amin… ^^

    • ohya, inti jawabannya memang terkait fitrah setiap manusia, ya, sahabat..

      maka jika para biara mengenal jalan menyendiri sepanjang hidupnya untuk “mengekalkan” cintanya kepada yang dipertuhankannya,
      maka di jalan ini, jalan lurus bagi mereka yang Ia beri nikmat itu, Islam, tidak demikian.

      Islam, dengan berpedoman pada al quran dan sunnah Rasulullah yang mulia, memang telah dengan sedemikian nyata indahnya pula mengatur semua hal, pun untuk urusan yang satu ini: pernikahan.

      semisal tentang hukum pernikahan bagi seseorang,
      manakala ia menjadi sunnah, bahkan wajib,
      atau justru menjadi haram, makruh…

      allahua’lam bishshawab..

      nb. maafkan kalau jawabannya kurang begitu mengena, ya..
      thanks for appreciating. salam kenal..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: