Oleh: sangprofesor | April 30, 2013

Di Sebening Obsesi

konstantinan

Obsesi tujuh abad itu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertakwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya.

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yg layak mendapatkannya . Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramdhan silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satupun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Qur’an-nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikat menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat, malam sejak balighnya, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia,sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

***

Kalau kau pernah membaca buku ustadzna Salim A.Fillah yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang, maka kau akan mendapati kisah ini disana. Ya, kisah yang disematkan judul “Di Sebening Obsesi” ini sumbernya dari sana.

Dan adalah seorang Putri, hampir seperempat abad usianya, yang di setiap kisah itu diulang kembali, entah didengar, entah dibaca, entah dikenang tetiba, darinya selalu mengucurlah air mata. Mungkin cengeng? Tapi benar tangis itu dari hati.

Seperti malam ini, ketika ustadz Felix Siaw, di Masjid UIN Kalijaga Yogyakarta, dengan membahananya aura, memperdengarkan kembali kisah nyata Muhammad Al Fatih dan obsesi tujuh abadnya yang membeningkan itu. Tak tertahan tetes air mata Putri. Dan seperti selalu, dalam syahdu rasa bergemuruh di dalam dada, ia tak lupa menyambung asa kepada Sang Maha Digdaya. Sambil mengelus perutnya ia berdoa,

“Semoga Allah menyuburkan rahim ini, agar darinya kelak lahir mereka generasi rabbani, pengemban al quran; hamilatul quran, generasi muttaqina imama.. yang obsesi2nya selalu membeningkan; karena mereka perindu surga; karena mereka adalah para pengusung risalahNya…”

“Amin… Amin ya Rabbal’alamin…”

[Yogyakarta, 101112]


Responses

  1. Allahu Akbar!
    Semoga kisahnya menginspirasi selalu🙂

  2. amin… allahumma amin…

    *iya senpai, semoga, Allahu akbar!🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: