“Barangsiapa yg memperbaiki hubungannya dengan Allah,
niscaya Allah pasti membaguskan takdir baginya”
(ustadz Awan Abdullah)
***
….bismillah….
“Barangsiapa yg memperbaiki hubungannya dengan Allah,
niscaya Allah pasti membaguskan takdir baginya”
(ustadz Awan Abdullah)
***
….bismillah….
Ditulis dalam Qabasat]I[Petikan
Beberapa waktu lalu, saya menemukan satu lagi situs yang cukup memfasilitasi ngaji via streaming live,
Nah, bagi sahabat yang dipermudah akses browsing internetnya, dan terbatas dalam menghadiri majelis ilmu-majelis ilmu secara tatap muka, maka situs seperti www.salingsapa.com dan www.radiopengajian.com bisa jadi pilihan, insyaAllah.
Ohya, selain itu kajian rutin pagi harian(KRPH) Mardliyyah juga sudah pindah channel lho… sekarang fosda masjid mardliyyah mulai berdikari, mandiri mengelola radio online-nya sendiri. Yah, moga barakah.
Untuk KRPH, sahabat bisa mengaksesnya dari situs
atau
Well, let’s see…
Sampai jumpa di frekuensi yang sama: …Tiada Kata Akhir Untuk Belajar…
InsyaAllah ^^d
~***~
Ditulis dalam News, religion | Tag:KRPH Mardliyyah, live streaming, radio pengajian
Di dunia ini, ada sekelompok orang yang jenak-jenak waktunya diberkahi oleh Allah swt. Wajah mereka bersinar. Jiwanya lapang, penuh semangat dan optimis. Tubuhnya pun terlihat lebih sehat. Jika kita termasuk dalam kelompok orang-orang itu, bersyukur dan pujilah Allah swt. Tapi bila kita tidak termasuk golongan mereka, segralah bergabung dengan kafilah mereka. Siapakah mereka?
Rinai hujan ini menjadi saksi,
penyubur harapan yang kian menghujam;
tentang doa itu,
tentang mimpi-mimpi,
tentang mereka…
“Tuhan, jadikan aku bagian dari ‘mereka’,
satu diantara mereka…”
Lalu rahmatan lil ‘alamin itu,
“Moga diberikan juga kesempatan untuk membangun keluarga surga,
keluarga pecinta al quran,
yang bahagia hidup bersama al quran,
yang bahagia membahagiakan…
dari sini kami, muslimin/at, bangkit;
keluarga-Mu di dunia,
keluarga-Mu di akhirat…”
“Sesungguhnya diantara manusia terdapat keluarga Allah. (Para sahabat) Bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasul?” Rasul menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an; mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihanNya”
(HR. Ahmad)
~***~
Ba’da Sema’an 30 Juz bersama “mereka”, huffadz rahimakumullah…
1 Januari 2012, 21.04
kubaca firman persaudaraan
oleh Ust.Salim A.Fillah
dalam bukunya, Dalam Dekapan Ukhuwah
ketika kubaca firman firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman
aku ingat pertemuan pertama kita, akhi sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum sebut nama, dan tangan belum berjabat
ya, kubaca lagi firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping
kubaca firman persaudaraan Akhi sayang
dan aku makin tahu, mengapa di kala diancamkan;
”para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain…
kecuali orang-orang yang bertaqwa”
Ditulis dalam Nafas Ukhuwah, Qabasat]I[Petikan | Tag:iman, Salim A.Fillah, ukhuwah
Catatan malam, memasuki 10 Muharram 1433
Setelah beberapa hari sebelumnya mengingatkan tentang keutamaan-keutamaan Muharram, salah duanya adalah puasa tasu’a dan asyura(9&10 Muharram), lewat handphone, lewat sms…
Lia: “Mama, tadi puasa?”
Reply from her,
Mama: “Ya, knp ‘Nak?”My respon,
Lia: “Alhamdulillah ^_^”at the same time,
Lia: “Papa, tadi puasa?”Reply from him,
Papa: “Papa tadi puasa dan besok juga puasa”My respon,
Lia: “Alhamdulillah ^_^”~
Lalu Senja, tiba pada 11 Muharram 1433
Masih via handphone, via sms…
Lia: “Selamat berbuka puasa, Ma ^_^”
There is no reply from herLia: “Selamat berbuka puasa, Pa ^_^”
There is no reply from himBa’da maghrib, ba’da setoran hafalan.
Lia: “Waktu berbuka puasa, adalah waktu diistijabahnya doa, apalagi doa orangtua kepada anak-anaknya. Mama, Papa, doakan kami anak-anakmu, ya.. doakan agar kami semua nantinya bisa menjadi jariyahmu. Dan kelak di akhirat, kita dapat dikumpulkan di surga yang sama. Menjadi keluarga lagi di surga-Nya. Amin…
Lia sayang mama dan papa karena Allah…“
Mama: “Aamiiin
…insyaAllah doa kita sekeluarga dikabulkanNya…”Lalu gerimis disini, di mataku…
***
Di sebuah petang. Senja awal Muharram 1433 H.
“Mbak-Mbak… Ayo nyanyi lagi…” Pinta mereka, beberapa adik taman pendidikan al-quran dimana aku mengajar.
“Iya, Mbak… Nyanyi lagi!” Sambut teman-temannya yang lain, menyepakati usulan.
“Ahya, baiklah… ayo nyanyikan lagi lagu yang dipentaskan kemarin… yang ‘O Ramadhan’, ya…” Ujarku.
“Oh yang ‘Ramadhan’… oke-oke, mbak!” celetuk Rika, seorang adik yang selalu bersemangat.
“Yup! Yang kompak, ya… Wahid, isnain, tsalis…”
Mereka pun menyenandungkan lagu itu dengan riangnya, “Our Month in Islam” by Zain Bikha feat Children of Madrasah Tul Banaat. Sebuah lagu-nasyid anak dalam bahasa Inggris, yang mengenalkan mereka tentang nama-nama bulan dalam sistem kalender Islam, Hijriyah…
Bismillahir-Rahmanir-Raheem
These are the Months in Islam:
Muharram, Safar, Rabi-ul-Awwal, Rabi-uth-Thaani
These are the months in Islam
Jumadul Ula, Jumadul Ukhrah, Rajab and Shabaan
Ramadaan, Ramadaan, Ramadaan then Shawaal
Dhul Qa da and Dhul Hijjah
These are the months in Islam
Muharram, Safar, Rabi-ul-Awwal, Rabi-uth-Thaani
These are the months in Islam
Jumadul Ula, Jumadul Ukhrah, Rajab and Shabaan
Ramadaan, Ramadaan, Ramadaan then Shawaal
Dhul Qa da and Dhul Hijjah
These are the months in Islam
(Teacher): Now our months tell us when we must fast and make Hajj. Our months go by the Sun or the Moon?
(Children): The Moon.“Nah, sekarang, ada yang tahu ga, apa arti dari lagu itu…?” tanyaku kemudian, setelah mereka selesai bernyanyi.
Sebagian besar menggelengkan kepalanya. Dan aku hanya mendelik kepada Pak Direktur, maknanya, “Gimana ini pelatihnya….-_-”
Namun, lagi-lagi si Rika kecil yang bersemangat mengangkat tangannya dan berujar,
“Aku tau, Mbak! Aku tahu!” Serunya.
“Apa?” tanyaku sambil menyondongkan badan ke arahnya, tersenyum kepadanya.
“Tentang bulan-bulan dalam Islam, Mbak…” Jawabnya.
“Iya, Mbak, tentang bulan Hijriyah!” Celetuk Vita.
“Ahya! Tepat sekali! Bagus…”
Yah, seneng deh kalo udah bisa berkolaborasi gini ama adek2…
Lalu aku pun mulai mengurai cerita tentang tahun baru hijriyah yang baru saja lewat beberapa hari, tentang persamaannya dengan tahun Masehi, dan perbedaan keduanya. Tentang tahun baru Islam yang jatuh pada tanggal 1 Muharram, juga tentang keutamaan-keutamaan dalam bulan Muharram.
“Adek2, tahu ga, kenapa kita mesti tahu tanggal hijriyah!?”
“Angga… Angga tahu ga…?” Tanyaku pada adik laki-laki yang sangat aktif itu.
Angga yang tadinya ga bisa diem, akhirnya kudapat titik perhatiannya, dia diam, tapi nyengir… itu maknanya adalah “Angga ga tahu embak… tadi maen aja…” hehe
Kemudian, lagi-lagi Rika ambil bagian,
“Karena kita orang Islam… iya, ‘kan, Mbak…”
Lagi-lagi tersenyum, berujar lagi betapa cemerlangnya mereka…
“Selain itu apalagi, ayo-ayo apa lagi…”
“Fa’i… apa lagi Fa’i? Katanya kita kan orang Islam, jadi kita harus tahu kalender Islam… nah, selain itu apalagi, Fa’i…?” kali ini aku bertanya padanya, seorang adik yang gemar makan roti dan main bola.
Dan respon Fa’i pun ga beda jauh ama Angga. Ia ga banyak bicara, tapi lebih memilih memamerkan giginya, nyengir kuda yang terjemahnya: “Apa ya, Mbak?!”
“Karena ‘kan ibadah kita make tanggalan Islam ya, Mbak, ya…” kali ini Wulan bicara, dan jawabannya super sekali….
*****
Ditulis dalam EkspResi, home | Tag:Dzulhijjah, End of Year, nama-nama bulan dalam sistem kalender Islam
Aku tahu rizkiku tidak dimakan orang lain, karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amalan-amalanku tidak mungkin dilakukan orang lain,
maka aku sibukkan diriku dengan beramal.
Aku tahu Allah selalu melihatku, karenanya aku malu
bila Allah mendapatiku melakukan maksiat.
Aku tahu kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal tuk berjumpa
dengan Rabb-ku
(Hasan Al-Basri)
Ditulis dalam home, Qabasat]I[Petikan
Sampai kapanpun, kita harus rindu pada tanah itu
Rindu kita pada tanah itu, rindu kita pada sosok Ibrahim dan keluarganya
Rindu baitullah, rindu Rasulullah
Rindu kita pada tanah itu, tak akan pernah sia-sia
***
Maka pada hati yang tertambat, pada rindu tanpa batas waktu, kita mohon pada Dia Yang menumbuhkan rasa ingin menuju di hati kita: Agar bagi kita yang belum pernah pergi ke tanah mulia itu, ada rindu yang terus kita pacu, agar suatu waktu nanti kita bisa menapakkan kaki disana, mengangkat tangan dalam doa panjang disana, menempel kening dalam sujud-sujud yang utuh di tanah itu. Kemudian setelahnya, pada jiwa yang telah merasakan getarnya di tanah suci itu, Allah izinkan untuk datang kembali. Kembali lagi. Dan lagi.
Amin.
***
“Tak ada seorang Muslim pun kecuali ia rindu
melihat ka’bah dan melakukan tawaf.
Manusia menuju kesana, dari segala arah
dan seluruh penjuru bumi.”
(Imaduddin Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah)
—
*apresiasi pada Tarbawi edisi 262 Th.13 Dzulhijjah 1432, 17 Nov 2011
Ditulis dalam home, religion | Tag:Dzulhijjah, Madinah, Makkah al Mukarramah, Rindu
Satu pagi di hari raya
Aku sujud memuji Mu
Satu pagi di hari raya
Aku sujud membesarkan Mu
Ku melafazkan takbir
Penuh rasa kehambaan
Ku melafazkan tahmid
Penuh rasa kesyukuran
(korus)
Gema takbir di pagi raya
Ku teringat kampung halaman
Aku di perantauan
Tak berdaya menahan sebak
Gema takbir di pagi raya
Ku rindukan ibu di sana
Keluarga sanak saudara
Hanya doa kukirim
Marilah di hari raya
Kita semua bermaafan
Lupakan persengketaan
Eratkan persaudaraan
Harmoni di hari raya
-Satu pagi di Hari Raya by Raihan-
*****
Jelang petang, jelang waktu operasi seorang sahabat, RS Karima Utama Solo.
“Kemarin idul adha baru merasakan lebaran jauh dari keluarga… nangis sendiri, ternyata gini rasanya kalian yang merantau, sedihnyo…” ujarnya yang sebentar lagi akan dioperasi.
“Ya ya… rasakanlah…” kata yang lain.
Lalu memoriku meloncat pada kepingan-kepingan episode dalam enam tahun terakhir ini.
Ah, air mata itu, penguat asa dari-Nya;
Ditulis dalam filsafat hidup, religion | Tag:Dzulhijjah, Raihan, Satu Pagi di Hari Raya
comments